SOLUTIF

SPBU Plaosan Babat Selalu Kosong Biosolar, Petani Geram: Lahan Tak Bisa Diolah, Pengairan Berhenti

Lokasi Antrean SPBU Plaosan Babat

Lamongan, 11 Juni 2026 – Kelangkaan Biosolar bersubsidi kembali menjadi masalah pelik bagi ribuan petani di wilayah Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Khususnya di SPBU Desa Plaosan, warga mengeluhkan stok selalu habis, tidak pernah cukup, dan nyaris tidak bisa didapatkan sejak beberapa pekan terakhir.

Akibatnya, pengolahan lahan dan pengairan sawah terhenti total, mengancam masa tanam dan hasil panen mendatang.

Berdasarkan pantauan di lokasi, setiap pagi hingga siang puluhan petani datang membawa jerigen, namun hampir selalu pulang dengan tangan kosong.

Papan pengumuman “Stok Biosolar Habis” terpampang terus-menerus, padahal jadwal pengiriman seharusnya rutin.

Kuota yang diterima SPBU ini dikatakan sangat sedikit, habis dalam waktu kurang dari 2 jam, dan sering kali pasokan tidak masuk sama sekali dalam sehari penuh.

“Sudah sebulan lebih begini, setiap hari ke sini hasilnya kosong”, keluh Karmin (48), petani Desa Plaosan yang sudah antre sejak pukul 05.00 pagi. Ia menjelaskan, traktor bajak dan mesin pompa airnya semuanya butuh Biosolar. Sekarang tanah belum dibajak, air tidak bisa dialirkan ke sawah, padahal musim tanam sudah tiba.

“Kalau beli di luar harganya Rp19.000 per liter, kami rugi besar. Harga resmi cuma Rp6.800, tapi di sini tidak pernah ada. Kalau terus begini, lahan kami terlantar, panen gagal, kami mau makan apa?” ungkapnya dengan nada kesal.

Keluhan sama disampaikan Sukadi (52), warga sekitar. Ia menilai pasokan di SPBU Plaosan sangat tidak wajar. Padahal wilayah ini adalah pusat pertanian, kebutuhan Biosolar sangat tinggi.

Diduga ada pembagian yang tidak adil, di mana pasokan justru terserap ke kendaraan besar atau dijual ke luar, sementara petani asli tidak kebagian.

Pihak pengelola SPBU mengakui menerima kuota yang jauh lebih kecil dari kebutuhan nyata. Pasokan dari Pertamina sangat terbatas, dan tidak bisa memenuhi permintaan warga. Mereka hanya bisa menyarankan datang pagi-pagi, tapi hasilnya tetap sama yaitu habis duluan.

Dampak nyata sudah terlihat, ratusan hektar lahan belum diolah, saluran irigasi kering, dan jadwal tanam tertunda. Petani khawatir jika tidak segera ada solusi, harga beras dan bahan pangan nanti akan naik karena berkurangnya hasil panen.

Para kelompok tani kini mendesak pemerintah kabupaten dan Pertamina segera menambah alokasi khusus untuk SPBU Plaosan, mengawasi ketat penyaluran, dan menindak tegas penyalahgunaan agar Biosolar benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan stok akan normal kembali. Warga berharap masalah ini selesai secepatnya agar ketahanan pangan di Babat tetap terjaga.

 

Penulis : Wildan Bintang P

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top