SOLUTIF

Sedekah Bumi Sebagai Simbol Rasa Syukur dan Kebahagiaan Masyarakat

Sumber: You Tube STUDIO AFIKA

TUBAN – Indonesia dengan bentangan geografis yang luas dari Sabang hingga Merauke, merupakan rumah bagi ratusan suku bangsa yang masing masing mewarisi kekayaan budaya yang tak ternilai. Tradisi bukan hanya sekedar rutinitas atau tontonan, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia, manusia dengan sang pencipta, serta manusia dengan alam semesta.

Tradisi sedekah bumi adalah salah satu upacara adat atau ritual tradisional yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia, khususnya di pulau jawa. Acara yang berlangsung meriah ini menjadi simbol rasa Syukur sekaligus kebahagiaan masyarakat akan melimpahnya hasil bumi.

Tradisi ini digelar sebagai ungkapan rasa Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah selama setahun terakhir. Selain sebagai ungkapan rasa Syukur, sedekah bumi juga sebagai simbol untuk mempererat tali silaturahmi antar warga  serta memohon doa agar desa dijauhkan dari segala marabahaya.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga desa Kradenan, mulai dari petani, nelyan, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Kemeriahan acara ini berada di bawah pohon beringin, sejak pagi hingga dini hari.

Acara diawali dengan membawa jodang (pikulan kayu) dan bakul berisi aneka makanan, masyarakat desa Kradenan menggelar tradisi tahunan sedekah bumi atau yang disebut manganan sebagai bentuk kearifan lokal yang masih terjaga kelestariannya.kegiatan manganan atau kenduri ambengan, dimana warga membawa nasi atau berkat dan didoakan oleh sesepuh adat atau tokoh agama (Modin) lalu dimakan bersama sama. 

“Namun saat ini jodag sudah jarang sekali digunakan, orang orang lebih memilih untuk menggunakan gerobak dorong untuk membawa makanan karena dirasa lebih  ringan”. Ungkap pak Hermanto.

Uniknya sebagian warga juga saling bertukar lauk pauk sebagai simbol berbagi rezeki. Acara dimeriahkan dengan pertunjukan tayub. Kesenian ini sebagai inti dari ritual kesuburan, dimana para masyarakat, dari orang tua hingga anak muda ikut menari bersama para penari Tayub (sinden) secara bergantian menggunakan selendang (mbeso). 

Dengan antusiasme warga dari berbagai usia yang ikut serta, tradisi manganan diharapkan terus lestari dan diwariskan ke generasi muda. Sedekah bumi pun menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan mampu mempererat persatuan masyarakat Desa Kradenan di tengah perubahan zaman.

 

Penulis: Chika Fajar Anatasya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top