
Berawal dapat bantuan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, Petani Garam Desa Sidomukti, Brondong, Lamongan. Sukses Menerapkan Teknologi Geomembran.
Di balik rasa asin garam, tersimpan kebahagiaan para petani garam yang kini berhasil menerapkan teknologi geomembran. Sebelum menggunakan metode ini, para petani masih mengandalkan cara tradisional dengan alas tanah. Akibatnya, garam yang dihasilkan kerap berwarna kecokelatan karena tercampur tanah, sehingga kualitas dan nilai jualnya relatif lebih rendah.
Perubahan mulai dirasakan setelah para petani memperoleh bantuan pemasangan geomembran dari Dinas Perikanan dan Kelautan. Bantuan tersebut menjadi langkah awal bagi petani untuk beralih ke metode yang lebih modern. Dengan menggunakan alas geomembran, garam yang dihasilkan tampak lebih putih, bersih, dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Salah satu petani garam Desa Sidomukti, Bapak karso, menjelaskan bahwa pada awalnya tidak semua petani langsung yakin untuk menggunakan geomembran. Namun, setelah melihat hasil panen yang lebih baik, semakin banyak petani yang mulai beralih menggunakan teknologi tersebut.
“Dulu kami masih pakai dasar tanah. Garamnya sering kecampur tanah, warnanya agak cokelat, jadi harga jualnya lebih murah. Setelah ada bantuan geomembran dari Dinas Perikanan dan Kelautan, hasil garam jadi lebih putih dan bersih. Pembeli juga lebih suka karena kualitasnya lebih bagus,” ujar karso saat ditemui di lahan garam Desa Sidomukti.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan geomembran membuat proses produksi menjadi lebih cepat. Menurutnya, lapisan geomembran mampu menyerap panas matahari dengan baik sehingga mempercepat proses penguapan air laut.
“Kalau cuaca mendukung, panennya bisa lebih cepat dibandingkan dulu. hasilnya juga lebih banyak dan kualitasnya meningkat. Pendapatan kami juga ikut naik karena harga garam lebih tinggi,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, petani lainnya, Bapak irhamni, menyampaikan bahwa bantuan dari pemerintah sangat membantu keberlangsungan usaha para petani garam.
“Kami sangat bersyukur mendapat bantuan ini. Geomembran benar-benar membawa perubahan bagi petani garam. Harapannya ke depan semakin banyak petani yang bisa merasakan manfaatnya sehingga kesejahteraan petani garam juga semakin meningkat,” katanya.
Keberhasilan penerapan teknologi geomembran di Desa Sidomukti menjadi bukti bahwa dukungan pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan mampu mendorong kemajuan sektor pergaraman. Kini, para petani tidak hanya menghasilkan garam berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki harapan baru untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui hasil panen yang lebih baik dan nilai jual yang semakin tinggi. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah penghasil garam lainnya dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Penulis: Rahadyan Arya Hamdani