SOLUTIF

20 Tahun Berjualan Krupuk, Pak Bambang Andalkan Kesabaran untuk Menyambung Hidup

Ilustrasi: Pak Bambang dengan Sabar Menunggu Pembeli

Tuban – Di tengah persaingan usaha dan kebutuhan ekonomi yang meningkat, pak Bambang seorang penjual krupuk keliling tetap setia menjalani pekerjaannya selama kurang lebih 20 tahun. Sejak bujang hingga sekarang sudah punya anak ia mengandalkan hasil berjualan krupuk untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Pak Bambang yang merupakan warga Widang setiap hari berjualan di kawasan Abipraya. Ia menjual empat jenis krupuk dengan harga Rp2.500 per bungkus. Untuk berkeliling dan berpindah lokasi jualan, Pak Bambang menggunakan sepeda motor.

Menurut Pak Bambang, lokasi berjualannya tidak selalu tetap, selain mangkal di Abipraya ia juga kerap berpindah ke berbagai tempat yang sedang ramai pengunjung seperti mbonang, acara pengajian, pameran, maupun kegiatan masyarakat lainnya.

“Setiap hari mangkal di sini , tapi kalau ada informasi dari teman pedagang lain ada acara yang ramai saya biasanya pindah ke sana,” ujarnya.

Krupuk yang dijual Pak Bambang mengambil dari pemasok di daerah mbonang. Namun, ia mengaku jumlah pembeli saat ini tidak menentu, keramaian biasanya hanya terjadi saat musim liburan atau ketika ada acara tertentu.

Pendapatan yang diperoleh pun tidak menentu, tergantung keramaian tempat penjualan.

“ kalau ada acara ramai orang terkadang keutungan  nainya tinggi, kadang juga ada yang borong buat oleh-oleh  tapi kalau lagi sepi ya turunya jauh sekali gak nentu pokoknya”, tergasnya.

Dalam sehari Pak Bambang rata-rata hanya mampu menjual sekitar dua bal krupuk. Jumlah tersebut bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk habis karena ia berjualan sejak pagi hingga malam hari.

“ dari 4 jenis kerupuk yang laku palingan kalau di jadikan satu itu cumak  laku 2 bal saja,” ujarnya

Dalam kondisi biasa, Pak Bambang memperoleh sekitar Rp70 ribu per hari. Namun, angka tersebut masih merupakan pendapatan kotor dan belum dikurangi berbagai kebutuhan usaha.

“Kalau hari- hari biasa dapat 70 ribu sehari itupun masih kotor, kadang gak dapet apa- apa juga habis di bensin, untuk bersihnya gak tahu memang harga jualnya sangat murah dan sepi pembeli” jawabnya.

Meski penghasilannya tergolong pas-pasan, dan tidak menentu, Pak Bambang tetap bertahan menjalani profesi tersebut. Ia mengaku tidak pernah berpikir untuk beralih pekerjaan karena sudah terlalu lama menekuni usaha jualan krupuk.

“Gak punya pikiran untuk ganti pekerjaan, soalnya jual krupuk sudah dari dulu, cukup tidak cukup ya dicukup-cukupkan. Saya tidak cari untung besar, yang penting bisa menyambung hidup. Mau kerja apa lagi kalau tidak ini,” katanya.

Bagi Bambang, kunci menjalani usaha kecil seperti ini adalah kesabaran. Ia harus menunggu pembeli datang dari pagi hingga malam demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tercinta.

 

Penulis : Zunita Amellia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top