SOLUTIF

Potret Pekerja Akar Rumput di Tuban, Kisah Pak Mamat Sebagai Penjaga Kebersihan Taman Abipraya

Pak Mamat saat beristirahat sambil mengawasi area parkiran Taman Abipraya
Foto: Pak Mamat sedang mengawasi area parkiran Taman Abipraya saat ditemui beberapa waktu yang lalu

Tuban – Riuhnya celotehan para pengunjung Taman Abipraya menjadi susasana yang akrab di penghujung minggu. Di baliknya, ada sosok-sosok tangguh yang bekerja dalam senyap demi kenyamanan publik. Salah satunya adalah Muhammad Ibrahim Rahmat, atau yang akrab disapa Pak Mamat. Pria Paruh baya yang baru saja memasuki kepala tiga ini, kini tengah mengabdikan dirinya sabagai petugas kebersihan sekaligus penjaga ketertiban parkir di bawah  naungan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Namun, jangan bayangkan ada tarif tetap untuk jasa parker yang dikelolanya. Berdasarkan Intruksi Bupati Tuban, area tersebut wajib bebas dari pungutan liar.

“Kami dilarang keras menarik tarif. Semua diatur seikhlasnya dari pengunjung. Berapapun yang dikasih warga, ya itu yang kami terima”, ujar pak mamat saat berbincang santai.

Menjadi garda depan kebersihan fasilitas publik nyatanya tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan yang ideal. Pak Mamat mengungkapkan bahwa upah bulanan saat ini yang ia terima berada di angka Rp1.690.000, jumlah yang bahkan belum menyentuh standar Upah Minimum Regional (UMR).

Ditengah impitan ekonomi dan sepinya pendapatan sukarela, yang adakalanya hanya menyentuh belasan hingga puluhan ribu sehari, Pak Mamat tetap memilih bersyukur. Baginya, pekerjaan ini adalah amanah untuk menghidupi istri, anak dan ibunya. Biasanya, untuk menyiasati kebutuhan dapur ia juga kerap mengambil pekerjaan sampingan sebagai buruh serabutan mulai memasang tenda hingga menjadi buruh tebang tebu.

Selama hampir sepuluh tahun mengabdi, Pak Mamat telah kenyang asam garam kehidupandi ruang publik. Taman Abipraya sering kali menjadi saksi bisu berbagai peristiwa yang unik juga menggelitik. Tak jarang ia harus mengamankan barang-barang pengunjung yang tertinggal, mulai dari kacamata, dompet hingga telepon genggam.

“Kadang lucu, ada yang panik karena helmnya hilang dan minta dicek di CCTV. Pas dicek, ternyata dari rumah memang tidak pakai helm”. Kenangnya sambil tertawa.

Selain urusan barang hilang, Pak Mamat dan rekan-rekannya juga berperan sebagai “penjaga moral” kawasan. Pada masa-masa bertugas mereka kerap membubarkan muda-mudi yang kedapatan berpacaran melewati batas kewajaran di area terbuka yang terpantau kamera pengawas tersebut. Alih-alih membentak, Pak Mamat memilih menegur mereka dengan pendekatan humanis.

Meski sadar pekerjaannya penuh tantangan dan pendapatan yang minim. Pak Mamat enggan berpangku tangan. Baginya, tanggung jawab terhadap keluarga adalah moto utama yang tetap membuatnya terjaga setiap hari.

Kisah Pak Mamat menjadi potret nyata dari pekerja akar rumput di Tuban, tentang bagaimana keikhlasan dan dedikasi mampu mengalahkan realitas ekonomi

 

Penulis: Allafa Alfuzzahroh Alfafa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top