
Tuban – Sejarah Makam Nyi Ageng Ayu Sutinah Buyut Gambir yang berada di Desa Karang hingga kini masih menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat. Tempat yang lebih sering disebut punden oleh warga sekitar itu memiliki beragam versi cerita. Tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut, menurut cerita turun-temurun dipercaya hidup pada masa pemerintahan Raja Brawijaya sekitar tahun 1310-1325 Masehi. Bahkan, makam tersebut tidak diketahui secara pasti kapan mulai dibangun. Kisah mengenai Nyi Ageng Ayu Sutinah Buyut Gambir hanya diwariskan dari mulut ke mulut, sehingga saat ini masih memiliki banyak versi dan belum dapat dipastikan kebenaran sejarahnya secara menyeluruh.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Nyi Ageng Ayu Sutinah Buyut Gambir dipercaya merupakan istri Raja Brawijaya II sekaligus adik dari istri Sunan Asmoro Qondi. Kedekatan hubungan tersebut membuat sosok Nyi Ageng Ayu Sutinah dianggap memiliki peran penting dalam sejarah yang berkembang di wilayah Desa Karang. Cerita mengenai Buyut Gambir masih terus hidup melalui penuturan para orang tua. Salah satu cerita itu disampaikan oleh Bu Hj Tasmi (85), yang sedikit banyak mengetahui sejarah Buyut Gambir berdasarkan cerita dari orang tuanya sejak ia masih kecil.
“Dulu sering diceritain bapak, katanya Mbah Buyut sering duduk di situ sambil menunggu suaminya pulang. Katanya disini banyak pohon gambir, makanya disebut mbah buyut gambir dan sampai sekarang tempat itu dihormati warga dan dibangun jadi punden buat mengadakan acara-acara,” ujar Mbah Tasmi.
Selain menjadi tempat yang dihormati, Punden Buyut Gambir juga kerap didatangi masyarakat untuk berziarah. Menurut cerita warga, di masa lalu punden tersebut menjadi lokasi pelaksanaan sedekah bumi yang dimeriahkan dengan langen tayub, kesenian tradisional khas Tuban yang menjadi hiburan sekaligus bagian dari ungkapan rasa syukur Masyarakat namun seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut mengalami perubahan. Kegiatan sedekah bumi yang dahulu diisi dengan pertunjukan langen tayub kini diganti dengan pengajian dan doa bersama yang diikuti oleh warga Desa Karang. Meski bentuk perayaannya berubah menyesuaikan perkembangan masyarakat, tujuan utamanya tetap sama, yakni sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus upaya menjaga kebersamaan antarwarga.
Bagi masyarakat Desa Karang, kisah Nyi Ageng Ayu Sutinah Buyut Gambir bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari identitas desa yang terus hidup melalui tradisi lisan. Meskipun belum didukung bukti sejarah yang kuat dan masih memiliki berbagai versi, masyarakat tetap melestarikan sebagai warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Penulis: Adelya Larasati F.