
Sepinya bisnis Kafe di Kabupaten Tuban tidak menyurutkan niat seorang pemuda setempat untuk mengambil jalur berbeda. Alih-alih mendirikan sebuah Kafe dengan harga menu yang selangit, ia justru memilih membuka Warung Kopi (Warkop) bernama Warkop Djagad dengan konsep yang unik yaitu fasilitas dan kenyamanan ala kafe, namun tetap mempertahankan harga ramah kantong khas warkop.
Konsep marketing yang tidak biasa ini terbukti sukses memikat perhatian masyarakat, terutama kalangan mahasiswa dan pekerja muda di Tuban yang mencari tempat nongkrong nyaman tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Saat ditemui pada Kamis (11/6/2026), pemilik Warkop Djagad tersebut, Bapak Hafid, mengungkapkan bahwa keputusan memilih konsep warkop bernuansa kafe ini didasari oleh pengamatannya terhadap perilaku konsumen di Tuban. Menurutnya, banyak orang ingin menikmati suasana tempat nongkrong yang estetik dan dilengkapi fasilitas mumpuni, tetapi sering kali terkendala oleh harga menu kafe yang dinilai kurang ramah untuk dompet harian.
“Kalau bikin kafe, kesannya mahal dan kadang bikin orang sungkan buat datang setiap hari. Makanya saya sengaja pakai nama Warkop Djagad, tapi desain interior, kebersihan, dan fasilitasnya seperti spot foto dan WiFi kami bikin senyaman kafe. Konsepnya santai, tapi pas bayar di kasir, harganya tetap harga warkop pinggir jalan,” ujarnya ramah.
Strategi ini terbukti ampuh mendatangkan arus pengunjung yang padat (human traffic). Pada hari-hari biasa (weekday), warkopnya selalu dipenuhi oleh pelanggan yang mengerjakan tugas kuliah, bekerja remote, atau sekadar mengobrol santai dari sore hingga malam hari. Namun, lonjakan pengunjung paling signifikan terjadi pada akhir pekan.
“Alhamdulillah, kalau malam Minggu atau pas ada event nobar bola, itu mejanya sampai kurang-kurang. Kuncinya memang di volume core-nya, untung tipis per menu tidak apa-apa, yang penting yang datang rombongan dan balik lagi,” katanya menjelaskan.
Perubahan paling terasa sejak warkop ini menerapkan konsep tersebut adalah loyalitas pelanggan yang terus meningkat. Tempatnya kini menjadi titik kumpul favorit karena menyediakan fasilitas yang baik seperti stopkontak di setiap meja, pencahayaan yang pas untuk berfoto, hingga alunan musik yang nyaman, namun dengan harga kopi dan camilan yang mulai dari beberapa ribu rupiah saja.
Meski usahanya terbilang sukses, tantangan operasional tetap ada. Masalah utama yang kerap dihadapi adalah keterbatasan lahan parkir saat pengunjung sedang membeludak. Tak jarang, kendaraan pelanggan yang meluber hingga ke tepi jalan utama sempat mendapat teguran dari petugas ketertiban setempat.
“Kendala paling sering ya parkiran. Kalau sudah penuh banget, motor pengunjung sampai makan bahu jalan. Antisipasinya, sekarang saya pakai juru parkir khusus dari pemuda sekitar sini buat menata kendaraan biar rapi dan tidak mengganggu lalu lintas,” tuturnya.
Keberhasilan warkop berkonsep kafe ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi pemasaran tidak harus selalu identik dengan modal besar atau tarif yang mahal. Dengan kepekaan membaca kebutuhan pasar lokal, bisnis rakyat seperti warkop pun mampu naik kelas dan bersaing di tengah gempuran tren modernisasi perkotaan di Tuban.
Penulis: Yohan Dinata