
Tuban – tak lekang dari zaman, keberadaan penjual jamu kekiling masih menjadi bagian dari masyarakt. Salah satunya adalah Mbah Siti, seorang penjual jamu tradisional yang setiap hari berkeliling menawarkan berbagai jenis jamu kepada pelanggan di sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban.
Di tengah banyaknya minuman modern, keberadaan penjual jamu keliling masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah Mbah Siti, seorang penjual jamu tradisional yang setiap hari berkeliling menawarkan berbagai jenis jamu kepada pelanggan di sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban.
Dengan membawa keranjang berisi botol-botol jamu racikannya sendiri, Mbah Siti tetap bersemangat menjalani aktivitas berjualan meski usianya sudah tidak muda lagi. Berbagai jenis jamu seperti beras kencur, kunyit asam, hingga jamu pahitan masih menjadi pilihan masyarakat yang ingin menjaga kesehatan secara tradisional.
Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya melayani pembeli, Mbah Siti mengaku telah menjalani profesi tersebut selama bertahun-tahun. Baginya, berjualan jamu bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga upaya mempertahankan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
“Nggih, sampun dangu nduk. Saben enjang nggowo jamu muter kampung-kampung. Alhamdulillah isih kathah sing tumbas, soale sampun dados langganan,” ujar Mbah Siti.
Menurutnya, pelanggan yang membeli jamu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga para pekerja. Banyak di antara mereka yang masih percaya bahwa jamu tradisional dapat membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh.
Meski harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain setiap hari, Mbah Siti mengaku tetap bersyukur dapat menjalani pekerjaannya dengan baik. Ia berharap jamu tradisional tetap diminati oleh generasi muda sehingga warisan budaya tersebut tidak hilang seiring perkembangan zaman.
“Mugi-mugi kulo tansah diparingi sehat, saget terus dodolan. Kulo ugi ngarepaken jamu tradisional tetep disenengi masyarakat, utamane bocah-bocah enom, ben budaya niki mboten ilang,” tuturnya.
Ketekunan Mbah Siti menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih mampu bertahan di tengah arus modernisasi. Di balik kesederhanaannya, ia tidak hanya menjual minuman kesehatan, tetapi juga turut menjaga salah satu warisan budaya Indonesia yang telah dikenal sejak dahulu.
Penulis: Putri Ameyla Sari