SOLUTIF

Bukan Sekadar Musibah, Kebakaran Berulang di Pasar Baru Tuban Tantang Evaluasi Total Pemkab

Sumber foto: Kabartuban.com

TUBAN- Kebakaran hebat kembali melanda Pasar Baru Tuban pada Kamis (23/4) dini hari, meninggalkan duka mendalam bagi para pedagang. Puluhan kios hangus dilalap api, memicu kerugian besar sekaligus ketidakpastian bagi mereka yang menggantungkan hidup di pusat perdagangan tersebut.

Di lokasi kejadian, puing-puing bangunan dan sisa barang dagangan tampak berserakan. Sejumlah pedagang terlihat kembali ke lapak mereka, berusaha menyelamatkan apa yang masih tersisa. Namun tak sedikit yang hanya bisa terdiam, menatap kiosnya yang kini rata dengan tanah.

“Semua habis. Tidak sempat menyelamatkan apa pun,” ujar Suprapto, salah satu pedagang, dengan wajah letih.

Data sementara mencatat sebanyak 41 kios dan los terbakar, yang dihuni sekitar 15 pedagang. Kerugian ditaksir mencapai Rp200 hingga Rp250 juta, meski angka pasti masih dalam proses pendataan.

Pemerintah Kabupaten Tuban bergerak cepat. Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, turun langsung meninjau lokasi dan menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasar. Ia menilai struktur kios dan los yang terlalu rapat menjadi salah satu penyebab cepatnya api merembet.

“Pasar Baru ini sudah tiga kali terbakar, meskipun di titik berbeda. Artinya, ada yang harus dibenahi secara menyeluruh, terutama tata letaknya,” ujar Lindra, sapaan akrabnya.

Sebagai langkah awal, pemerintah akan melakukan pembersihan area setelah proses olah tempat kejadian perkara (TKP) selesai. Pedagang terdampak juga akan difasilitasi dengan tenda darurat agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Meski demikian, para pedagang mengaku masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait bantuan maupun relokasi sementara.

Di balik peristiwa ini, kembali mencuat persoalan lama mengenai pengelolaan pasar tradisional. Sejumlah pedagang menilai fasilitas di Pasar Baru selama ini kurang mendapat perhatian, meski mereka tetap dibebani berbagai biaya operasional.

“Kalau dari dulu ada perbaikan, mungkin tidak akan separah ini,” kata Fahmi, pedagang lainnya.

Kebakaran kali ini bukan yang pertama. Peristiwa serupa tercatat telah terjadi beberapa kali, termasuk pada Maret 2020 yang menjadi salah satu kebakaran terbesar. Saat itu, api menghanguskan sedikitnya 1.942 kios dan 600 los. Kebakaran terjadi pada dini hari saat sebagian besar warga masih terlelap, sehingga api dengan cepat meluas.

Rangkaian kejadian tersebut memperkuat anggapan bahwa persoalan di Pasar Baru Tuban bukan semata soal musibah, melainkan juga berkaitan dengan aspek tata kelola dan mitigasi risiko kebakaran.

Kini, perhatian publik tertuju pada langkah konkret pemerintah daerah dalam menangani dampak sekaligus mencegah kejadian serupa terulang. Bagi para pedagang, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, melainkan kepastian agar mereka dapat kembali berjualan dan memulihkan sumber penghasilan yang telah hilang.

Harapannya, penanganan kali ini tidak sekadar bersifat tambal sulam. Renovasi tata letak yang selama ini menjadi keluhan pedagang harus segera direalisasikan agar pasar tidak lagi menjadi zona rawan bencana. Peristiwa ini menjadi ujian nyata bagi komitmen Pemkab Tuban dalam memprioritaskan keselamatan aset ekonomi rakyat.

 

Penulis: Nistel Rooy

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top