SOLUTIF

Bosan Jadi Pegawai, Mengadu Peruntungan Lewat Pentol Korea

Potret: Mas Al saat sedang menyiapkan dagangannya

  Tuban – Terik matahari siang itu tak menyurutkan antusiasme para pengunjung Taman Abhipraya. Sejumlah pengunjung tampak sedang menikmati waktu luang bersama keluarga maupun teman. Terdengar suara gelak tawa anak-anak, obrolan santai keluarga, juga lalu lalang pengunjung menciptakan suasana yang ramai namun nyaman.

   Di tengah suasana yang ramai itu, para pedagang sibuk menjajakan jualan mereka, tidak berbeda pula dengan seorang pedagang pentol korea yang kerap dikenal dengan panggilan Mas Al. Aroma gurih dari gorengan pentol korea itu rupanya menarik banyak pengunjung. Mas Al tampak dengan telaten melayani pembeli yang datang silih berganti mendatangi lapaknya.

   Pentol korea sendiri sebetulnya adalah pentol goreng biasa. Adonan pentol yang terbuat dari tepung dan campuran bahan lain, dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil yang kemudian akan digoreng dengan kocokan telur. Pentol korea yang sudah digoreng memiliki tekstur yang lembut di dalam dan renyah di luar. Setelah matang, pembeli bisa memilih saus untuk dinikmati dengan pentol korea, mulai dari saus tomat hingga bumbu kacang.

   Disela kesibukannya melayani pembeli, Mas Al bercerita, bahwa dirinya telah berjualan sejak tahun 2022.

   Sebelum berjualan Pentol Korea, Mas Al merupakan seorang pekerja pabrik. Namun baginya menjadi pekerja pabrik tidak cocok untuknya, ia lebih suka menjadi wirausaha karena lebih fleksibel.

“Kalo jadi karyawan itu bagiku ga enak, tiap hari dapat omengan. Kalau jualan gini kan bebas, dari kita sendiri, bosnya kita sendiri,” ujarnya terus terang.

   Pengalaman tersebut menjadi motivasi awal bagi Mas Al untuk merintis usaha secara mandiri. Ia kemudian memilih untuk berjualan pentol korea karena dinilai lebih menguntungkan sekaligus membuatnya lebih produktif. Menurutnya, usaha tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar apabila dibarengi dengan strategi pemasaran dan penjualan yang tepat.

   Mas Al menuturkan bahwa Taman Abhipraya merupakan lokasi yang strategis untuk berjualan karena merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat Tuban. Banyak orang yang datang kemari untuk sekedar bersantai dan beristirahat sejenak di bawah rindangnya pepohonan yang rimbun.

“Taman kota bagi warga Tuban kan tempat wisata, jadi ya mau ga mau kita jualan di sini karena ramai pengunjung,” ucapnya.

   Untuk memperluas jangkauan penjualan, Mas Al tak hanya berjualan di Taman Abhipraya saja. Ia mengatakan bahwa dirinya juga menjajakan dagangannya di sejumlah sekolah. Hal tersebut ia lakukan pada hari kerja (weekday) ketika aktivitas pengunjung di taman tidak seramai saat akhir pekan.

    Pendapatan yang diperoleh Mas Al tidak selalu sama setiap hari. Ia mengaku memperoleh keuntungan yang lebih besar saat berjualan di Taman Abhipraya pada akhir pekan karena jumlah pengunjung yang datang jauh lebih banyak dibandingkan dengan sekolah-sekolah tempat ia biasa berjualan pada hari kerja

“Kalo Taman kota rame ya Alhamdulillah lebih, kalo sekolahan kan itu-itu aja pendapatannya,” jelas Mas Al.

   Menjelang sore, pengunjung Taman Abhipraya masih terus berdatangan. Di tengah ramainya aktivitas masyarakat yang menikmati waktu luang, Mas Al tetap sibuk melayani pembeli yang berdatangan ke lapaknya. Bagi dirinya, keramaian taman bukanlah sekedar pemandangan akhir pekan, melainkan sumber rezeki yang terus menghidupi usahanya.

Penulis: Halimahtus Sa’diyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top