
keindahan dan kebersihan yang selalu diterjaga
TUBAN — Lewat sinergi kompak antara pemuda, warga, pemerintah desa, dan sokongan dana CSR perusahaan, Pantai Wisata Dermaga di Desa Purworejo kini tumbuh menjadi magnet wisata baru.
Kawasan pesisir yang kini ramai wisatawan tersebut dulunya merupakan area pembuangan sampah liar yang didominasi limbah rumah tangga. Mas Anim, salah satu penggerak pengelola pantai, mengungkapkan bahwa gerakan ini mulanya murni gerakan sosial tanpa adanya niat bisnis sama sekali.
“Awalnya kan memang kita tidak ada niatan untuk membuka pantai, kita cuma aksi bersih-bersih kepemudaan. Setiap hari Minggu pemuda Karangtaruna dan Teman-teman melakukan giat bersih Pantai, dulu di sini tempatnya sangat penuh sampah rumah tangga dan sampah masyarakat seperti pampers, plastic dll” ungkap Mas Anim, salah satu pengelola Pantai.
Konsistensi para pemuda yang rutin membersihkan sampah-sampah setiap hari Minggu selama setahun penuh akhirnya mengetuk kesadaran warga sekitar. Agar kawasan ini dapat dikelola secara lebih profesional, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) setempat kemudian mengarahkan agar manajemen pantai dialihkan ke bawah naungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), yang dalam pelaksanaannya tetap bekerja sama erat dengan para pemuda Karang Taruna.
Saat ini, kenyamanan pengunjung menjadi fokus utama pihak pengelola, terutama dalam hal menjaga kebersihan dari sampah di area pantai. Guna mengantisipasi lonjakan pengunjung terutama pada musim liburan, pihak pengelola menerapkan sistem kebersihan yang terstruktur dengan menyiagakan sekitar tiga orang tenaga kebersihan khusus yang terjadwal rutin. Langkah penanganan sampah ini juga disokong penuh oleh aliansi relawan dari Karang Taruna, anggota Pokdarwis, serta tingginya kesadaran para pedagang yang ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan di sekitar area lapak mereka sendiri.
Selain pengelolaan sampah, penataan ruang juga diperhatikan secara saksama demi kenyamanan bersama. Tempat berjualan sengaja disediakan secara khusus oleh pihak pengelola melalui pembangunan fasilitas food court yang dibantu oleh pihak perusahaan. Melalui langkah ini, para pedagang kaki lima telah direlokasi ke zona khusus tersebut agar area perdagangan tidak bercampur dengan area bersantai pengunjung, sehingga suasana pantai tetap terlihat rapi, estetik, dan tidak semrawut.
Alih rupa pesisir kumuh ini terbukti memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat sekitar. Saat ini, sudah ada 18 pelaku usaha mikro yang mengisi area food court dan seluruhnya merupakan warga lokal setempat. Tidak hanya pedagang di dalam area pantai, perputaran ekonomi ini juga berdampak positif pada warung-warung kelontong milik warga yang berada di sepanjang perkampungan menuju pantai.
Melihat potensi besar ini, pihak pengelola berkomitmen untuk terus mengevaluasi pengelolaan berdasarkan masukan dari para pengunjung yang datang. Selain memprioritaskan pemeliharaan kebersihan lingkungan sebagai fondasi utama, rencana jangka panjang pengelola saat ini berfokus pada pembenahan serta peningkatan kapasitas sarana penunjang, seperti pembangunan aula pertemuan dan perbaikan fasilitas toilet umum demi kenyamanan wisata yang berkelanjutan.
Penulis: Syifa Azzahra