
TUBAN – Suasana sore yang cerah saat matahari mulai tergelincir ke arah barat biasanya dimanfaatkan sebagian orang untuk bersantai. Namun, hal berbeda terlihat pada DS, seorang mahasiswa semester dua yang tetap produktif menyempatkan diri untuk berolahraga di sela-sela kesibukannya. Alun-Alun Tuban kini memang menjelma menjadi salah satu area favorit bagi para pencinta olahraga lari untuk menyalurkan hobi mereka.
Setiap hari, ruang publik ini selalu ramai dipadati oleh pelari dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Menariknya, pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari warga lokal Tuban saja, melainkan banyak juga yang datang dari luar daerah. Pada awal tahun 2025, Alun-Alun Tuban resmi dibuka kembali untuk umum setelah melewati proses renovasi selama berbulan-bulan oleh Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky. Sejak pemugaran tersebut, kawasan di sekitar alun-alun menjadi jauh lebih bersih, tertata rapi, dan kini telah dilengkapi dengan fasilitas trek khusus lari (jogging track).
DS, mahasiswa asal Brondong yang tengah menempuh studi di Universitas Ronggolawe (UNIROW) Tuban, menjadi salah satu warga yang merasakan langsung dampak positif dari fasilitas baru ini. Dirinya biasa berlari seusai pulang kuliah, sekitar pukul 16.30 hingga 17.15 WIB.
“Karena suasananya nyaman, bebas polusi, dan banyak pelari lain, sehingga saya semangat untuk latihan agar bisa mencapai performa yang saya targetkan,” ungkap DS setelah selesai melakukan pemanasan.
Bagi DS, lintasan lari di Alun-Alun Tuban bukan sekadar tempat untuk membakar kalori. Ada kisah unik di balik konsistensinya berlari. Ia mengaku awal mula menggeluti hobi ini adalah karena mengalami patah hati setelah diputus oleh pasangannya. Saat itu, ia merasa tidak percaya diri (insecure) dengan kondisi fisiknya yang lumayan berisi. Berangkat dari keinginan untuk menurunkan berat badan sekaligus meluapkan emosi masa lalu, ia mulai rutin berlari. Lama-kelamaan, DS justru termotivasi oleh pelari lain yang sudah memiliki catatan waktu ritme cepat atau pace kecil di kisaran 4 hingga 1. Lintasan ini pun berubah menjadi ruang pembuktian diri baginya. Berawal dari pelarian atas patah hati, kini olahraga lari telah mengakar menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup sehatnya.
Perkembangan kemampuan DS juga tidak lepas dari keberadaan komunitas pelari lokal yang sering berkumpul di Alun-Alun Tuban. Melalui interaksi di area tersebut, ia belajar banyak hal teknis, seperti teknik pernapasan yang benar, pentingnya menjaga hidrasi tubuh, hingga strategi mengatur tempo langkah kaki agar tidak mudah lelah. Target DS saat ini sudah bergeser, bukan lagi sekadar menurunkan berat badan, melainkan menjaga konsistensi stabilitas pace kecil untuk mempersiapkan diri mengikuti berbagai ajang perlombaan.
Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, Kabupaten Tuban gencar menggelar acara lari. Salah satu agenda terdekat yang ia incar adalah event fun run bertajuk “Commfair Run with Balloon Run” yang akan diselenggarakan di kampus UNIROW Tuban pada 9 Agustus 2026 mendatang.
Perubahan positif Alun-Alun Tuban pascarenovasi ini terbukti membawa dampak besar bagi produktivitas dan kesehatan generasi muda. Oleh karena itu, kesadaran bersama untuk menjaga fasilitas publik yang memadai ini sangat diperlukan. DS pun berharap agar masyarakat yang datang berkunjung—baik untuk sekadar bersantai, berburu kuliner, maupun berolahraga—bisa saling menjaga kebersihan trek lari dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Penulis: Irsyad Prayoga