
TUBAN – Di tengah keramaian-pikuk kendaraan yang keluar masuk pusat kota Tuban, suara peluit seorang juru parkir menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga. Bagi sebagian orang, keberadaan mereka hanya untuk mengatur kendaraan dan menjaga keamanan kendaraan. Namun, dibalik tiupan peluit itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang jarang terdengar.
Salah seorang juru parkir, Pak Deny, mengaku telah menjalani profesi ini sejak tahun 2025 lalu. Saban hari, ia bertugas di sebelah barat Alun-Alun Kota Tuban, tepatnya di samping Masjid Agung Tuban. Pendapatan harian yang ia peroleh dari jasa perparkiran tersebut tidaklah cukup, berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per hari.
“Hasil dari memarkir itu ya dicukup-cukupkan saja untuk membiayai kehidupan sehari-hari,” tutur Pak Deny saat ditemui di sela-sela aktivitasnya.
Pak Deny tidak sendirian. Di kawasan tersebut, terdapat sekitar 15 orang yang menggantungkan hidupnya sebagai juru parkir. Agar pengelolaan lahan parkir berjalan tertib, mereka membagi waktu kerja ke dalam beberapa jadwal kerja ( shift ) sesuai kesepakatan bersama.
Sebelum akhirnya memutuskan menetap menjadi juru parkir di Kabupaten Tuban, Pak Deny merupakan seorang perantau. Ia tercatat pernah bekerja di berbagai daerah, mulai dari Bekasi, Cikarang, Bogor, hingga terakhir menghabiskan waktu hampir satu tahun bekerja di Jakarta.
Meski saat ini harus bekerja di jalanan dengan pendapatan yang jauh dari kata mewah, Pak Deny mengaku tetap bersyukur atas pekerjaan yang ia lakoni sekarang.
“Ya nikmati saja, nikmati pekerjaan halal dan berkah,” ujarnya optimis.
Berada di pusat keramaian kota bukan berarti pekerjaan ini bebas dari hambatan. Setiap hari, Pak Deny dan rekan-rekannya harus berhadapan langsung dengan terik matahari yang menyengat, guyuran hujan mendadak, hingga perilaku beberapa pengendara yang enggan membayar jasa parkir.
“Kadang ada saja pengendara yang marah saat ditarik biaya parkir, tapi kami tetap berusaha sabar. Kalau bukan kami yang mengarahkan, siapa lagi yang mau mengatur kerapian parkir di area yang ramai ini,” tambahnya.
Saat ditanya mengenai harapannya di masa depan, Pak Deny menyimpan doa sederhana agar kawasan pusat kota Tuban selalu ramai dikunjungi orang, sehingga berdampak positif bagi pendapatan para pekerja di luar negeri. Ia berharap profesi kecil yang ia tekun dengan jujur ini bisa terus membantu menyelamatkan hidup dengan layak.
Penulis: Ahmad Febrian Putra Yanma