
TUBAN – Gejolak ekonomi global mulai merambah ke sektor industri kreatif di Kabupaten Tuban. Bisnis buket bunga artificial (bunga tiruan) yang tengah naik daun, kini harus menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bahan baku yang signifikan pada awal tahun 2026 ini.
Kenaikan biaya produksi ini mencakup hampir seluruh komponen utama, mulai dari bunga impor, kertas wrapping, pita, hingga aksesoris pendukung lainnya. Kondisi ini memaksa para pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian harga jual demi menjaga keberlangsungan bisnis mereka.
Persoalan utama yang dihadapi para perajin buket bukan hanya pada modal, melainkan juga pada resistensi konsumen. Banyak pelanggan yang belum menyadari adanya kenaikan harga bahan baku dan masih mematok ekspektasi pada harga lama.
Iif, salah satu pemilik usaha florist di Tuban, mengeluhkan situasi sulit tersebut. Ia mengaku seringkali harus memberikan penjelasan ekstra kepada pelanggan agar mereka memahami mengapa harga produknya mengalami kenaikan.
“Sekarang bahan naik semua, tapi pelanggan taunya harga lama. Kalau kita naikkan harga, mereka bilang mahal. Padahal kami juga terpaksa menyesuaikan agar tidak rugi,” ujar Iif saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (09/04).
Melonjaknya harga bahan baku ini disebut-sebut sebagai dampak turunan dari konflik internasional yang mengganggu rantai pasok minyak dunia. Hal ini secara otomatis menaikkan harga produk turunan minyak seperti plastik dan kemasan yang menjadi komponen vital dalam pembuatan buket bunga artificial.
Meski dihantam kenaikan harga, minat masyarakat terhadap buket artificial sebenarnya tetap tinggi. Keunggulan produk yang tahan lama dan estetik menjadikannya pilihan utama untuk momen wisuda, ulang tahun, hingga prosesi lamaran.
Kini, para pelaku usaha di Tuban berada dalam dilema besar. Menaikkan harga secara drastis berisiko membuat pelanggan berpindah ke lain hati, namun mempertahankan harga lama berarti siap menelan kerugian.
Kondisi ini menjadi bukti nyata bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada korporasi besar, tetapi juga memberikan efek domino yang nyata bagi keberlangsungan usaha mikro di daerah. Para perajin berharap kondisi pasar segera stabil atau adanya solusi alternatif untuk bahan baku yang lebih terjangkau tanpa mengurangi estetika produk.
Penulis : M. Naufaldi Agus N