
TUBAN – Beban hidup masyarakat di Kabupaten Tuban kian berat. Belum usai persoalan mahalnya harga plastik dan sulitnya mencari gas LPG melon, kini warga harus menghadapi kenyataan pahit: harga minyak goreng subsidi, Minyakita, melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 23.000 per liter.
Lonjakan harga ini jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Berdasarkan pantauan di Pasar Baru Tuban, ketersediaan stok Minyakita di lapak-lapak pedagang terpantau menipis, bahkan banyak warung yang kehabisan stok sama sekali.
Khoirunnisa, salah seorang pedagang sembako, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga sudah dirasakan sejak memasuki bulan Ramadan akibat tingginya permintaan. Namun, kondisi saat ini diperparah dengan pemangkasan jatah kiriman dari distributor.
”Biasanya kami dapat jatah 50 dus sekali kirim, tapi sekarang dipangkas drastis hanya menjadi 15 dus saja,” keluh Khoirunnisa saat ditemui di lokasi.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pasar Baru Tuban, Sukadi, berdalih bahwa distribusi minyak subsidi sebenarnya masih berjalan. Namun, ia mengakui adanya keterlambatan pengiriman dalam beberapa hari terakhir.
Terkait harga yang menyentuh Rp 23.000, Sukadi menegaskan bahwa lonjakan tersebut terjadi pada jalur distribusi tidak resmi. Ia mengklaim bahwa mitra Bulog tetap menjual sesuai aturan melalui sistem isi ulang bagi pedagang tertentu.
”Harga yang naik signifikan itu bukan dari mitra resmi Bulog kami. Jalur distribusi resmi tetap terpantau sesuai aturan,” tegas Sukadi.
Meskipun otoritas pasar mengklaim jalur resmi tetap aman, fakta di lapangan menunjukkan masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng murah, sehingga terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan pokok.
Penulis : Putra Nur Karim