SOLUTIF

Pesona Tebing Kapur Goa Nganten, Magnet Baru Wisata Alam di Rengel Tuban

Sumber foto : Google Maps

TUBAN – Kabupaten Tuban seakan tak pernah kehabisan potensi wisata alam. Belakangan ini, sebuah kawasan perbukitan kapur bernama Goa Nganten di Dusun Jaten Cilik, Desa Rengel, mendadak ramai didatangi warga.

Tempat yang sering disebut Goa Pengantin ini kini jadi jujukan baru masyarakat untuk mencari ketenangan dan melepas penat.

Berdasarkan pantauan di lokasi, area wisata yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari pusat Kecamatan Rengel ini memang masih sangat asri. Pengunjung langsung disambut oleh tebing kapur menjulang yang tertutup rapatnya pepohonan dan semak belukar.

Daya tarik utamanya terlihat jelas saat siang hari, ketika sinar matahari masuk melewati celah-celah tebing berbatu dan memecah suasana gelap di dalam goa.                                              

Meski menyuguhkan pemandangan alam yang asri, pengunjung harus rela mengeluarkan tenaga ekstra untuk sampai ke titik utama.

Ada dua pilihan rute masuk yaitu jalur pertama cukup menantang karena harus membelah area hutan kecil, sedangkan jalur kedua lebih singkat dengan pemandangan bebatuan kapur alami di sepanjang jalan.

Ramainya Goa Nganten ini tak lepas dari peran pemuda desa setempat. Berkat rutin mengunggah video kondisi goa ke media sosial, mereka berhasil menarik minat pengunjung dari berbagai daerah untuk datang langsung.

Namun, lonjakan jumlah pendatang ini rupanya memicu kekhawatiran baru soal masalah kebersihan lingkungan.

Menanggapi potensi penumpukan sampah, pihak pengelola kawasan langsung mengambil langkah tegas. Mereka tidak segan menindak siapa saja yang merusak keaslian alam.

“Ekosistem Goa Nganten ini harus dijaga mutlak. Kami melarang keras siapa pun yang berani membuang sampah sembarangan di area wisata,” tegas pak kasmolan salah satu perwakilan pengelola kawasan saat ditemui berjaga di lokasi.

Meskipun Goa Nganten sedang viral berkat promosi digital, fakta di lapangan menunjukkan bahwa warga lokal tidak mau lengah dengan ramainya tren wisata ini.

Mereka memilih bersikap tegas menerapkan aturan agar area perbukitan kapur tersebut tidak berujung rusak akibat ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

 

Penulis : Ummulliya Putri Ayu Wulandari

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top