SOLUTIF

Menguak Tragedi dan Misteri di Balik Keindahan Air Terjun Nglirip Tuban

Sumber foto: Indonesiakaya.com

TUBAN – Di balik gemuruh air terjun setinggi 30 meter yang membelah rimbunnya hutan di Dusun Jojogan, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, tersimpan sebuah narasi masa lalu yang kelam. Air Terjun Nglirip, atau yang dahulu dikenal masyarakat lokal sebagai Grajagan Nglirip, bukan sekadar fenomena geologi yang memukau mata. Tempat ini adalah saksi bisu dari konflik kasta era pra-Majapahit, sebuah pelarian yang berujung duka, hingga lahirnya mitos sang putri pembatik yang melegenda.

​Berdasarkan penuturan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun, muasal kisah ini berakar dari masa sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit. Kala itu, seorang Adipati Tuban terpesona oleh kecantikan seorang perawan desa anak dari tokoh sakti setempat. Sang gadis kemudian dipinang dan dijadikan istri selir. Meski berstatus sebagai istri penguasa, sang ibu memilih tetap tinggal di desa asalnya dan menolak diboyong ke Pendopo Kadipaten. Dari hubungan ini, lahirlah seorang putri yang tumbuh mempesona di tengah masyarakat pedesaan.

​Tragedi dimulai ketika sang putri menginjak dewasa. Ia menjalin kasih dengan seorang pemuda dari kalangan rakyat jelata bernama Joko Lelono. Hubungan beda kasta ini ditentang keras oleh sang ayah (Adipati Tuban) maupun pihak keluarga ibunya yang menganggap asmara tersebut sebagai aib bagi trah bangsawan.

​Demi memisahkan keduanya, sang Adipati mengambil langkah ekstrem dengan memerintahkan prajurit Kadipaten untuk menghabisi nyawa Joko Lelono. Kabar kematian kekasihnya menghancurkan hati sang putri. Dirundung duka yang mendalam dan kekecewaan luar biasa terhadap keluarganya, sang putri memutuskan untuk melarikan diri (minggat) dari rumah.

​Pelarian itu membawanya jauh ke dalam hutan di sekitar aliran Sungai Krawak, hingga ia menemukan sebuah goa tersembunyi yang berada tepat di balik tirai Air Terjun Nglirip. Di dalam keheningan goa yang lembap itulah, sang putri mengasingkan diri dari dunia luar untuk bertapa memeluk kesunyian hingga akhir hayatnya.

​Keputusan sang putri untuk mengisolasi diri melahirkan keyakinan baru di kalangan masyarakat. Seiring berjalannya waktu, sosoknya diyakini melebur dengan alam gaib dan menjadikannya entitas pelindung kawasan tersebut, yang kini dikenal sebagai Putri Nglirip.

​Dalam narasi lisan yang berkembang, sosok sang putri kerap digambarkan menampakkan diri dengan paras yang sangat menawan, mengenakan busana megah layaknya bangsawan masa lampau. Menariknya, ia memiliki sebuah kebiasaan tak biasa, sering terlihat sedang membatik dalam keheningan di atas relung bebatuan besar di sekitar air terjun. Jemarinya yang lentik tampak menggoreskan malam di atas kain imajiner, menjadikannya dikenal sebagai sang putri pembatik.

​Aura mistis ini kian kental dengan berbagai kesaksian warga maupun pengunjung yang sayup-sayup mendengar suara lembut di keheningan malam. Alunan suara yang menyerupai nyanyian sendu itu dipercaya sebagai lantunan dari Dewi Rara Kuning, nama lain yang juga melekat dalam sejarah spiritual kawasan ini. Tak jarang pula, kilatan cahaya aneh muncul membelah rimbunnya hutan di sekitar air terjun saat tengah malam.

 

Penulis: Wanda Adevani

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top