
Tuban (09/05/2025) – Desa Rejeng, sebuah perkampungan di Jawa Timur, menyimpan misteri sejarah yang terukir di lereng Gunung Rengit. Menurut Pak Maskuri, juru kunci Puncak Rengit yang diwawancarai pada (Rabu, 7 Mei 2025) , nama tersebut berasal dari kata ”sangit”. Puncak gunung ini bukan sekadar bentang alam, melainkan juga pusat spiritualitas yang menyimpan kisah para leluhur dan jejak perjalanan waktu.
Nama “Rengit” sendiri menyimpan cerita menarik. Pak Maskururi menjelaskan, “Puncak rengit berasal dari kata sangit. Jaman dulu makanan masih susah, tidak ada apa-apa. Jadi mbah-mbah orang jaman dulu, termasuk mbah yai, itu membakar-bakar makanan sehingga menimbulkan bau sangit. Karena di Desa Rejeng baunya sangit, jadilah Rengit.” Kisah ini menggambarkan kehidupan masyarakat di masa lalu, yang penuh perjuangan dan kesederhanaan, dan memberikan konteks unik pada nama tempat yang kini menjadi tujuan ziarah.
Puncak Gunung Rengit menjadi tempat bersemayamnya beberapa makam keramat, di antaranya makam Mbah Putri Sekar Arum, Mbah Kimpul, Mbah Kimulyo Aji, dan Mbah Sodiqo. Penemuan makam-makam ini bermula dari sebuah peristiwa tak terduga, setelah pernikahan seorang santri dari Mbah Kyai Solikhan Muslih, beliau didatangi empat sosok gaib tiga berjubah putih dan satu mengenakan kebaya yang mengarahkan pada keberadaan makam-makam tersebut. Pak Zainal, tokoh masyarakat Desa Rejeng, membenarkan informasi ini, dan makam-makam pun dibuka, dibersihkan, dan dikhouli. Sejak saat itu, setiap Jumat Pon dan Kamis Wage, ziarah dan doa bersama diadakan di Puncak Rengit, menjadi tradisi yang lestari hingga kini.
Mbah Sodiqo sendiri merupakan seorang pendatang di tanah Jawa yang mencari gurunya, Syekh Abdullah Asy’ari (almarhum Sunan Bejagung). Sementara Mbah Kimulyo Aji dikenal sebagai tokoh yang membabat alas di Desa Rejeng. Sedekah Bumi Rengit, yang dirayakan setiap Kamis Pon dan Jum’at Wage, menjadi perwujudan rasa syukur dan penghormatan kepada para leluhur dan alam. Mbah Sodiqo, seorang santri dengan ilmu yang tinggi, menurut keterangan Pak Maskuri, dimakamkan di Puncak Rengit, menurut Kyai jaman dulu, dikarenakan ilmu yang dimilikinya cukup tinggi.
Namun, informasi mengenai Mbah Sodiqo masih simpang siur. Bahkan, Puncak Rengit pernah diziarahi oleh orang Jawa Barat yang mengklaim bahwa makam tersebut adalah makam Mbah Sodiq, bukan Mbah Sodiqo. Pak Maskuri menjelaskan bahwa perbedaan nama ini disebabkan oleh kondisi pada masa lalu, ketika para ulama dan kyai sering diburu oleh musuh. “Makanya setiap petilasan di tempat-tempat namanya berbeda, karena memang diburu oleh musuh,” jelas Pak Maskuri. Hal ini menambah lapisan misteri pada kisah Mbah Sodiqo dan Puncak Rengit.
Puncak Rengit, yang dikelola dengan dana desa, dan perawatan area makam yang menjadi tanggung jawab Pak Maskuri, kini telah menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi, menunjukkan perpaduan unik antara sejarah, spiritualitas, dan pelestarian budaya di Desa Rejeng yang sangat indah.
Reporter: Muhamma Syahroni / Natasya Sahana / S. Fadhilah N. I.