SOLUTIF

Siasat Jualan Bakaran ala Mahasiswa Teknik

foto bang pik saat berjualan di sawah karang

Tuban – Di tengah padatnya jadwal perkuliahan dan praktikum yang menyita banyak waktu, seorang mahasiswa Teknik di Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang untuk mandiri secara finansial. Mahasiswa bernama Nafi’ur Rosyid ini mulai merintis usaha jajanan bakaran sejak duduk di bangku SMK. Setelah sempat berhenti, Nafi’ kembali menjalankan usahanya pada semester kedua kuliah untuk membiayai pendidikannya sendiri.

  Usaha bakaran ini sebenarnya sudah dimulai sejak Nafi’ masih bersekolah di SMK. Setelah lulus, Nafi’ sempat bekerja selama satu tahun dan sering berganti-ganti tempat kerja di berbagai rumah makan. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi mendorongnya untuk merintis kembali usaha tersebut sejak semester pertama kuliah hingga akhirnya benar-benar terealisasi pada semester kedua.

 Saat ini, Nafi’ membagi waktu berjualannya di beberapa lokasi. Awalnya, Nafi’ berjualan di Bundaran Sleko Tuban. Kini, usahanya telah memiliki tiga titik penjualan, yaitu di kawasan Sawah Karang (Glodok) yang beroperasi mulai pukul 15.30 hingga 17.30 WIB, serta di depan Balai Desa Kulon yang beroperasi setelah waktu Magrib hingga pukul 21.00 WIB.

  Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa teknik sekaligus pelaku usaha tentu tidak mudah. Jurusan teknik di kampusnya dikenal memiliki banyak laporan praktikum (laprak) yang menumpuk. Namun, Nafi’ memiliki strategi jitu dalam membagi waktu.

  “Saya selalu berusaha menyicil tugas sedikit demi sedikit agar tidak menumpuk saat mendekati tenggat waktu. Biasanya, setelah pulang jualan sekitar pukul 21.00 WIB, saya lanjut mengerjakan tugas kuliah sampai larut malam, bahkan kadang sampai pagi,” ujar Nafi’ saat ditemui di sela-sela aktivitas berjualannya, Kamis malam.

 Nafi’ juga sempat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pada semester pertama. Namun, karena jadwal yang semakin padat antara kuliah, laporan praktikum, dan jualan, Nafi’ memutuskan untuk keluar dari UKM dan fokus pada usaha bakaran tersebut demi memenuhi biaya kuliahnya.

 Dengan harga hanya Rp1.000 per tusuk, Nafi’ menawarkan beragam jenis jajanan bakaran. Menu sosis dan tahu bakaran menjadi produk yang paling cepat habis diburu pembeli. Target pasarnya mencakup semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu rumah tangga yang sering membeli bakaran untuk camilan keluarga.

 Di tengah lonjakan harga bahan baku saat ini, Nafi’ memilih untuk mempertahankan harga Rp1.000 per tusuk dengan menerapkan strategi shrinkflation (mengurangi sedikit ukuran produk tanpa mengurangi kualitas bahan baku) agar rasa khas bakarannya tidak berubah.

 “Kuncinya ada pada konsistensi bahan dengan perbandingan 1:1 antara ayam dan tepung, serta mempertahankan merek saus, kecap, dan bumbu kacang yang sama agar pelanggan tidak kecewa,” pungkasnya.

Meski proses produksi dibantu oleh ibunya di rumah, Nafi’ mengelola dan mengoperasikan usaha tersebut secara mandiri. Usahanya menjadi wujud nyata perjuangan anak muda yang tangguh dan kreatif dalam menyongsong masa depan. 

 

Penulis : Mochamad Syihabudin Habibullah    

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top