SOLUTIF

TRADISI SEDEKAH BUMI (MANGANAN) DESA KARANGLO ATAS WUJUD SYUKUR MASYARAKAT YANG DI GELARKAN PERTUNJUKAN WAYANG OLEH KI DALANG SIGID ARIYANTO, S.sn

Tradisi Sedekah Bumi

Tuban- Tradisi manganan atau bisa di sebut dengan sedekah bumi hingga kini masih terus dijaga kelestariannya oleh waraga Masyarakat Desa Karanglo. Kegiatan ini yang setiap tahunnya digelar menjadi wujud rasa syukur warga Masyarakat kepada Allah SWT atas hasil bumi yang di panen yang melimpah, kegiatan ini sekaligus bentuk penghormatan terhadap leluhur yang telah mendahului kita.

Acara sedekah bumi dilaksanakan dilingkungan desa Karanglo dan diikuti oleh seluruh Masyarakat desa karanglo mulai dari perangkat desa, tokoh agama, petani, hingga generasi muda. Warga dea karanglo sangat antusias menyambut tradisi ini dari jauh-jauh hari.

Waktu pelaksaan sedekah bumi tidak ditentukan oleh Kalender masehi, melainkan mengikuti penanggalan Jawa, Yaitu pada hari Jumat Wage. Bulan pelaksanannya pun menyesuaikan, yakni setelah panen raya selesai, sebagai symbol rasa Syukur atas rezeki yang telah di berikan selama musiman ini.

Rangakaian acara diawali dengan ziarah kubur di makam yang di sebut “Makam Mbah Buyut Kituan” dengan membawa panggang ayam utuh komplit dengan kondimen jajan pasar tradisional. Seporsi panggang ayam tersebut kemudian di potong setengah ekor untuk di sisakan yang biasa di sebut “Tolak Bala”. Kegiatan tersebut biasanya berlangsung selama dua hari. Di hari terakhir malam pucaknya biasanya terisi dengan Pengajian umum.

Selain doa dan makan Bersama, acara sedekah bumi di malam puncaknya yaitu setelah 3-4 hari acara tersebut selesai akan di adakan pagelaran pertujukan wayang kulit yang biasanya di isi oleh dalang-dalang terkenal Yaitu KI Dalang Sigid Ariyanto. S,sn. Biasanya Pagelaran wayang kulit di adakan setahun sekali yaitu bertepatan pada acara sedekah bumi.

Pertunjukan Wayang tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian acara karena tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya dan pesan moral melalui cerita yang disampaikan oleh dalang tersebut. Warga Masyarakat desa karanglo tampak memenuhi Lokasi pertunjukan untuk menyaksikan jalannya pagelaran wayang tersebut. Kehadiran wayang tersebut dalam acara sedekah bumi menjadi Upaya Masyarakat untuk mengenalkan budaya tradisional kepada generasi-generasi berikutnya agar tetap terjaga dan tidak di hilangkan oleh perkembangan zaman.

Seorang warga setempat, Ikhsan, Menuturkan bahwasannya dirinya Bersama warga desa yang lain sangat senang menjalankan tradisi ini “Melalui manganan ini, Masyarakat dapat berkumpul, mempererat silaturahmi dan mengingat Kembali pentingnya rasa Syukur atas segala nikmat yang telah diberikan”

Disisi lain, Sejumlah Masyarakat desa karanglo menyebutkan bahwa jauh sebelum berkembang menjadi tradisi yang sekarang, kegiatan berkumpulnya warga dalam sedekah bumi ini juga pernah menjadi sarana penyebaran syiar islam di desa ini pada masa lampau. Seiring waktu, kebiasaan berkumpul disatu titik itu tetap dilestarikan warga desa ini.

Pemerintah desa karanglo yaitu kepala desa Bapak suharum mendukung pelaksanaan tradisi tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya local. Dengan adanya dukungan dari bebagai pihak, sedekah bumi diharapkan dapat diteruskan setiap tahun dan dijadikan dari identitas Masyarakat desa karanglo.

Dengan konsistennya pelaksanaan sedekah bumi setiap tahunnya Masyarakat desa karanglo berharap tradisi ini dapat diteruskan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Selain sebagai wujud Syukur hasil bumi, kegiatan ini juga menjadi identitas budaya yang memperkaya kearifan local ditengah modereinasi.

 

Oleh : Sefina Laila Nur Febriana

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top