
Tuban, 16 Juli 2026 – Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pasar tradisional yang dulu menjadi pilihan utama kini mulai bersaing dengan online shop yang menawarkan proses berbelanja lebih praktis. Perubahan tersebut bisa dilihat dari semakin banyaknya masyarakat yang memilih berbelanja melalui aplikasi dibanding datang langsung ke pasar.
Kemudahan menjadikan alasan utama untuk beralih ke belanja online. Pengguna cukup membuka aplikasi di ponsel, konsumen dapat mencari berbagai produk, membandingkan harga, hingga melakukan pemesanan tanpa harus keluar rumah terlebih dahulu. Waktu yang lebih hemat membuat cara berbelanja ini semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda yang sudah akrab dengan teknologi digital.
Kondisi tersebut sejalan dengan hasil Survei E-Commerce 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga 31 Desember 2023, tercatat 3,82 juta usaha e-commerce tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Survei yang dilakukan di 365 kabupaten/kota itu juga menunjukkan bahwa 41,51 persen usaha telah menjalankan kegiatan e-commerce. Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan digital terus berkembang dan menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Berbagai promo seperti diskon, gratis ongkir, hingga flash sale menjadi daya tarik tersendiri. Adanya fitur ulasan pembeli dan layanan return apabila barang rusak atau tidak sesuai pesanan juga membuat konsumen merasa lebih aman saat berbelanja. Media sosial turut memperkuat tren tersebut karena banyak produk yang viral dan memunculkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu keinginan untuk ikut membeli agar tidak merasa tertinggal tren.
Perubahan kebiasaan berbelanja mulai berdampak pada aktivitas pasar tradisional. Berdasarkan pemberitaan Kabar Tuban pada 30 Agustus 2025, sejumlah pedagang di Pasar Baru Tuban mengeluhkan jumlah pembeli yang terus menurun. Penjualan yang sebelumnya cukup ramai kini mengalami penurunan, sementara kenaikan retribusi kios dinilai semakin menambah beban pedagang. Sebagian di antaranya bahkan mengaku sempat mencoba berjualan secara online, tetapi masih saja kesulitan bersaing dengan banyaknya produk yang mengikuti tren pasar.
Pasar tradisional masih memiliki keunggulan yang tidak dimiliki online shop. Pembeli dapat melihat kualitas barang secara langsung sebelum membelinya, terutama pada kebutuhan pokok seperti sayur, buah, ikan, dan daging. Interaksi antara penjual dan pembeli serta budaya tawar-menawar juga bisa menjadi nilai yang harus dipertahankan hingga saat ini.
Kemajuan teknologi tidak dapat dihindari, tetapi bukan berarti pasar tradisional harus semakin ditinggalkan. Dukungan pemerintah melalui peningkatan fasilitas pasar dan kebijakan yang berpihak kepada para pedagang perlu diimbangi dengan kemampuan pedagang memanfaatkan media sosial, layanan pemesanan daring, serta pembayaran digital. Masyarakat dapat memanfaatkan kemudahan dari belanja online tanpa melupakan peran pasar tradisional sebagai pedorong ekonomi lokal. Dari keseimbangan tersebut, perkembangan teknologi bisa berjalan seiring dengan berlangsungnya pasar tradisional di era sekarang.
Penulis: Nabila Putri Amelia