
Tuban– Keindahan alam yang memukau, suasana yang asri, serta udara yang sejuk menjadikan Sendang Beron sebagai salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat dan wisatawan. Wisata Ini berlokasi di Desa Punggulrejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, objek wisata ini menawarkan pesona alam yang mampu memberikan suasana nyaman dan menyegarkan bagi setiap pengunjung.
Sendang Beron saat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Punggulrejo atas amanah yang diberikan oleh pemerintah desa untuk mengelola aset desa tersebut. Melalui pengelolaan yang baik, BUMDes berupaya mengembangkan potensi wisata Sendang Beron sekaligus meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa.
Menurut Fany, selaku pengelola Sendang Beron, BUMDes diberi tanggung jawab untuk mengelola dan mengembangkan potensi wisata yang dimiliki desa.
“BUMDes sendiri diberikan amanah oleh pemerintah desa untuk mengelola aset desa, yaitu Sendang Beron,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu yang lalu.
Sendang Beron telah lama dikenal sebagai tujuan masyarakat untuk berenang dan menikmati sumber mata air alami yang dimilikinya. Selain dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, air dari Sendang Beron juga dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat sebagai sumber air bersih. Air tersebut biasanya diambil untuk didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan, terutama wilayah pegunungan saat musim kemarau.
Sebelum dilakukan pengelolaan secara lebih serius, kondisi Sendang Beron dinilai belum tertata dengan baik dan belum dikelola secara komersial seperti saat ini. Meski demikian, tempat tersebut telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tuban.
Fany menjelaskan bahwa pengelolaan oleh BUMDes baru berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan terakhir. Sementara itu, proses pembangunan dan penataan kawasan wisata telah dilakukan selama kurang lebih enam bulan.
“Mulai bulan Oktober kami melakukan penataan. Tahap awal yang dilakukan adalah pembersihan tanaman-tanaman liar, kemudian dilanjutkan dengan penataan kawasan hingga pembangunan fasilitas,” jelasnya.
Meski berbagai pembangunan telah dilakukan, pihak pengelola mengakui bahwa pengembangan kawasan wisata masih berada pada tahap awal. Hingga saat ini, progres pembangunan baru mencapai sekitar 10 persen dari target keseluruhan yang direncanakan.
“Pembangunan ini masih sekitar 10 persen dari target 100 persen. Namun karena antusiasme dan tuntutan masyarakat yang begitu besar, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan soft launching,” tambah Fany.
Awal Tahun 2026 pengelola sendang beron mencoba bikin event diantaranya, mancing gratis yang dilakukan di pagi hari sekitar setelah subuh sampai jam 9 pagi. Panitia menebar 2kwintal ikan dengan berbagai macam ikan diantarannya ikan patin, ikan mujair, ikan nila, dan ikan lele.
“Alhamdulillah antusias Masyarakat itu nggak cuman dari Masyarakat Tuban dari luar tuban itu juga datang kesini karena komunitas mancing kan memang besar ya” katanya sambil tersenyum
Tidak hanya itu setelah mancing gratis ada seni hiburan yaitu, seniman Reog pada jam 9pagi sampai Maghrib. Panitia bekerja sama dengan Seniman Reog Singomudo yang menjadi koordinator paguyuban-paguyuban yang lain sehingga berkempul disendang beron.
“Alhamdulillah acara kita di tahun baru itu dimeriahkan 7 paguyuban dari Tuban dan Lamongan, dari lamongan itu ada dari babat sama sukodadi” kata fany sambil duduk manis.
Sejak awal soft launching terjadi lonjakan pengunjung Ketika hari sabtu-minggu yang bisa menembus pengunjung sekitar 3500 orang dari jam setengah 6 pagi- 11 malam, Sendang beron open 24 jam tapi target tersebut memang belum tercapai karena jam 11 malam sudah tutup. Sedangkan di hari senin-jumat open di jam 7 pagi-5 sore.
Mulai sore hari sekitar jam 5 sore pengunjung akan diarahkan ke cafe atau ke wisata edukasi kasih makan kelinci yang dikelola karang taruna tapi secara manajemen tetap sama dengan sendang beron karena yang mendapat Amanah dari PerDes itu adalah BumDes.
Hasil dari penjualan tiket dikelola BumDes secara merata yaitu 30% Pembangunan, 30% gaji karyawan, 20% depositkan sebagai aset, 20% lagi disiapkan untuk dana tak terduga.
“Memang di tahun pertama ini kita Strabel disitu karena kalo kita ngomongin kemaslahatan mungkin ada ditahun kedua ketiga, ditahun satu ini memnag kita banyak pengadaan-pengadaan yang nilainnya juga lumayan.”
Dari segi tata cara pengelolaan, setiap minggu panitia belanja kursi sedikit demi sedikit bukan beli langsung karena banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk Pembangunan yang masih berjalan, seperti membayar tukang setiap minggu, gaji karyawan dan kebutuhan lainnya.
Di Sendang beron masih banyak fasilitas yang belum jadi secara sempurna, pengelola masih berusaha untuk mantening kepercayaan Masyarakat karena kenyamanan Masyarakat sangat diprioritaskan.
“seperti halnya wisata-wisata yang lain kita sudah mempersiapkan kejutan-kejutan yang tentu kita tidak dapat realis dalam satu waktu, kita sudah punya tim R&D (Riset and Development) yang memikirkan pasar-pasar ke depan itu seperti apa” jawab Fany ketika diwawancarai beberapa waktu yang lalu
Dengan pengelolaan yang lebih terarah melalui BUMDes, Sendang Beron diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi desa, tetapi juga tetap menjaga fungsi sosial dan lingkungan sebagai sumber mata air yang penting bagi masyarakat sekitar.
Oleh: Novelia Putri Nur Khomariyah