
TUBAN — Sering kali ruang publik menjadi ladang nafkah yang cukup keras bagi sebagian masyarakat kecil, tak terkecuali Taman Hutan Kota Abhipraya Tuban. Di balik hiruk – pikuk serta riuhnya suasana kota yang selalu sibuk, tersimpan sebuah kisah perjuangan dari seorang ibu yang menggantungkan hampir seluruh nasib keluarganya di taman ini sebagai PKL (Pedangang Kaki Lima) demi keberlangsungan hidup.
Bu Sri, seorang ibu tangguh yang rela setiap harinya memikul beratnya barang – barang dagangannya ke Taman Hutan Kota dengan sekantong penuh harapan dan iringan doa di setiap jalan yang beliau lewati.
Demi membiayai pendidikan anak – anaknya serta dapur rumah yang tak pernah absen menyajikan nasi hangat, Bu Sri berusaha keras hingga memutar otak dengan menawarkan beberapa jasa secara sekaligus.
Mulai dari lapak mewarnai seharga 10.000 pergambar, wahana pancing – pancingan ikan, hingga menjual minuman segar yakni es teh dan es jeruk untuk para pengunjung taman.
“tentunya saya harus pinter – pinter cari celah mbak. Anak pertama saya kuliah di luar kota dan adiknya masih SMA. Makanya selain mewarnai, ada juga saya sediakan di sini mainan pancingan dan es teh, siapa tahu pelanggan saya haus, kan lumayan.” Ungkap Bu Sri saat saya wawancarai di sela aktivitasnya.
Namun tentu saja, dalam hidup ini harapan terkadang tak berjalan sesuai dengan kenyataan. Bu Sri kerap kali harus menelan kekecewaan lantaran pola prilaku pengunjung saat ini sudah mulai berubah. Masyarakat kini kebanyakan hanya datang berkunjung saja, jarang sekali ada yang membeli dagangan atau menggunakan jasa PKL.
“Sekarang kebanyakan pengunjung itu hanya datang dan duduk – duduk atau jalan – jalan. Lapak mewarnai dan pancingan saya seringnya cuma dilihat lalu dilewati begitu saja. Kalau pas sepi gini cuma bisa dapat Rp. 20.000 saja sudah beruntung, biasanya malah tidak dapat sama sekali,” keluh beliau dengan nada getir.
Dengan kondisi ekonomi yang serba sulit dan seret seperti itu, keadaan makin diperumit dengan oleh rutinitas pendisiplinan yang di lakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Penertiban yang biasanya dilakukan kisaran jam 09.00 pagi atau jam 09.00 malam tentunya menjadi momok menakutkan bagi Bu Sri dan kawan – kawan PKL yang lain.
“Kami ini cuma modal nekat gelar tikar buat cari makan dan bayar sekolah anak – anak mbak, bukan mau bikin onar atau rusuh. Dada ini rasanya sesak sekali jika jam sembilan malam sudah ditertibkan. Padahal di jam segitu orang – orang baru ramai keluar apalagi yang anak – anak muda begitu. Saya bingung mau bayar biaya kuliah dan sekolah anak saya bagaimana,” pungkas Bu Sri dengan wajah sedih. Berharap pemerintah setidaknya memberikan kelonggaran dan solusi yang lebih humanis dan relevan.
Penulis: Siti Nur Aeni