SOLUTIF

Menjemput Rezeki di Taman Hutan Kota Abipraya Tuban, Kisah Bu Lilik Pedagang Kaki Lima yang Setia di Tengah Ketidakpstian

Foto: Bu Lilik sedang melayani pembeli saat ditemui beberapa waktu yang lalu

Tuban – Sore itu, di bawah rindangnya pepohonan di Taman Kota Abipraya Tuban, ada seorang perepuan paru baya tampak sibuk melayani pembeli. Senyumnya mengembng dan menawarkan jualanya meski keringat membasahi wajahnya. Ia adalah bu lilik pedagang kaki lima berasal dari sukolilo yang telah menjadikan sudut kota sebagai ladang rezekinya. Di tengah ramainya kendaraan lalu-lalang dan orang-orang yang berkunjung, Bu Lilik setia menggelar lapak demi menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Bu Lilik adalah seorang perempuan pedagang kaki lima yang tinggal di Sukolilo, Tuban, Jawa Timur. Ia merupakan salah satu pedagang dari sekian banyaknya pedagang yang mencari nafkah di Taman Hutan Kota Tuban. Dengan modal keberanian dan ketekunan karena sudah menjadi kegiatanya sehari-hari, Bu Lilik menghidupi keluarganya dari hasil berjualan berbagai minuman dan makanan ringan mulai dari pop mie, mie goreng, sosis bakar, pop ice, es teh, es jeruk, hingga kopi.

Sosoknya yang ramah dan penuh canda membuat siapa pun yang singgah di lapaknya merasa nyaman. Percakapan dengannya mengalir hangat, penuh gelak tawa, seolah menghapus batas antara penjual dan pembeli. Ia adalah sosok perempuan tangguh menjadi garda terdepan yang berjuang untuk menopang perekonomi keluarga.

Bu Lilik menjalankan usaha dagang kaki lima dengan menjual berbagai produk instan yang terjangkau. Menu andalannya seperti pop mie, mie goreng, sosis bakar, pop ice, es teh, es jeruk, kopi, pilihan yang tepat untuk pengunjung taman hutan kota dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, remaja, hingga para orang tua.

Selain berjualan, Bu Lilik juga harus mengelola setok barang, mengatur modal, dan memastikan dagangannya laku setiap hari agar tidak merugi. Sebuah pekerjaan sederhana yang aslinya membutuhkan keahlian manajemen tersendiri, dikerjakan tanpa peltihan formal, hanya mengandalkan pengalaman dan naluri bertahan hidup.

Perjalanan berdagang Bu Lilik dimulai dari Alun-Alun Tuban, Alun-Alun menjadi pilihan utamanya karena selalu ramai ada peziarah, pelajar maupun pengunjung yang sekedar bersantai. ‘’ ya, dari dulu memang lebih ramai di alun-alun,’’ tuturnya dengan nada nostalgia.

Ketika pemerintah merencanakan relokasi pedagan di alun-alun ke kawasan Pantai Boom, Bu Lilik memilih berjualan di Taman Hutan Kota Tuban. Menurt Bu lilik relokasi ke Pantai Boom yang ia nilai sepi pembeli. Keputusannya sudah bulat, meski tantangan baru pasti ada walaupun dalam wujud yang berbeda.

Bu Lilik menjadi pedagang kaki lima sudah bertahun-tahun lalu. Hari demi hari konsisten mengelar lapaknya, tak terkecuali saat cuaca yang tidak bersahabat. Rutinitas hariannya tidak sepenuhnya bebas dari campur tangan pihak berwenang Satpol PP datang tiga kali sehari pagi, siang, dan sore hari untuk melakukan penertiban.

Kehadiran Satpol PP yang rutin menjadi dinaika tersendiri dalam keseharian Bu Lilik. Tetapi Bu Lilik sudah terbiasa menghadapinya dengan lapang dada, sebagai bagian tak terpisahkan dari keidupan seorang pedagang kaki lima di ruang publik kota.

Bu Lilik mempertahankan dagangan demi keluarganya, di balik setiap cangkir kopi dan pop mie yang ia siapkan, ada anak-anak yang membutuhan uang jajan, kebutuhan yang harus terpenuhi, dan harapan kecil yang harus di jaga.

Ironisnya, di hari-hari sepi, pendapatan kotor yang dibawa pulang sekitar antara Rp20.000 hingga Rp50.000 seringkali hanya cukup untuk menutup baya modal atau sekedar untuk uang saku anaknya. Tetapi Bu Lilik tidak menyerah. Baginya, berjualan bukan sekedar mencari uang, tetapi sebuah pilihan untuk bertahan hidup.

Pasang surut sudah menjadi kebiasaan bagi pedagang. Ketika Taman Hutan Kota Abipraya ramai di kunjungi anak-anak sekolah, Bu Lilik bisa membawa pulang uang sekitr Rp100.000 hingga Rp200.00 per hari, itu sudah mebuat gebira di tengah keterbatasan modal. Namun keramaian tidak datang setiap hari. Di hari-hari yang lengang, membawa pulang Rp20.000 sampai Rp50.000 pun sudah bersyukur.

Ketidak setabilan ini menuntut Bu Lilik untuk cermat mengelola keuangan. Ia harus memastikan pendapatan kotor tidak sepenuhnya untuk biaya modal. Itulah kegiatan yang dilakukn setiap hari, tanpa menggunakan aplikasi keuangan, cukup dengan ingatan dan pengalaman bertahun-tahun.

Pilihan untuk berpindah dari Alun-Alun ke Taman Hutan Kota Abipraya pun merupakan bentuk adaptasi strategis. Ia tidak sekadar mengikuti arus kebijakan, tetapi memperhitungkan di mana peluang terbaik untuk dagangannya. Keputusan itu membuktikan bahwa Bu Lilik bukan sekadar penjual tetaoi ia adalah seorang wirausaha kecil yang tangguh, berpikir kritis di balik senyum hangatnya.

Saat suasana sudah mulai sepi jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, Bu Likik membereskan lapaknya. Hari ini bisa ramai, bisa juga sepi tetapi ia akan kembali esok. Taman Hutan Kota Abipraya bukan sekadar ruang publik baginya, tempat itu menjadi kantor tanpa tembok, ladang tanpa pagar, dan saksi bisu dari tekadnya yang tak pernah padam.

Kisah Bu Lilik adalah kisah jutaan perempuan Indonesia yang bekerja dalam diam, jauh dari sorotan kamera dan riuh tepuk tangan. Mereka adalah tulang punggung ekonomi informal yang menggerakkan roda kehidupan kota dari pinggir ke pinggir, dari pagi hingga senja.

Dalam tawa dan obrolan akrabnya, tersimpan semangat yang tak ternilai harganya. bahwa hidup, seberat apapun, tetap layak diperjuangkan dengan sepenuh hati.

Penulis: Rahma Oktavia Firdaus

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top