
TUBAN—Jumat, 12 Juni 2026 Di tengah gemparnya krisis ekonomi pada saat ini pasangan suami istri pedagang kaki lima Ibu Ani rela mencari uang hanya untuk sesuap nasi. Sebagai seorang pedagang telur gulung dan martabak telur yang merintis 26 tahun lamanya kini, perjuangannya masih tak goyah dalam gemparan krisis yang melanda demi sesuap nasi.
Pada saat itu Alun-alun merupakan ikonik tuban dengan jajanan yang sangat ramai berderetan di jalan trotoar pada saat sore hari. Beliau bersama suaminya berjualan tepat di depan kantor pemda tuban yang sebelumnya alun-alun ini di renovasi yang akhirnya menjadi megah dan mewah.
Aksi ini sangat memprihatinkan karena pada saat pembangunan alun-alun para pedagang yang awalnya berjualan disekitar alun-alun kini di pindahkan disekitar pantai boom. Selain itu ketua paguyubannya yaitu bernama pak budi, beliau adalah salah satu pedagang sekaligus yang mengatur berdirinya paguyuban itu hingga saat ini.
Hal ini membuat beliau yang setiap harinya berjualan di alun-alun tuban merasa penghasilan beliau berjualan sangat minim sekali dan hampir satu harinya beliau tidak membawa uang sepeserpun dari dagangan beliau. Pada akhirnya beliau dan rekan-rekan bekerja sama untuk menyampaikan aksi mereka yaitu dengan demo yang di ketua oleh bapak Budi ini.
Beliau awalnya merasa senang sebelum adanya pembangunan alun-alun itu karena di sana beliau bisa menghasilkan uang berpuluh puluh ribu tetapi sekarang beliau hanya bisa membawa uang lima belas ribu saja. Dengan uang segitu beliau bersama suami tidak pantang menyerah untuk mendapatkan hak untuk berjualan di area alun-alun tersebut, meskipun sekarang beliau sudah berjualan di depan kantor pos tetapi beliau sangat bersyukur bisa berjualan di sana meskipun pulang membawa uang yang sangat minim dari hasil omset yang lalu.
Harapannya semoga pemerintah bisa adil terhadap pembagian tempat bagi pedagang untuk berjualan di alun-alun tuban dan agar masyarakat lebih mudah menjangkau dalam mencari jajan terdekat.
Penulis: Aristya Rizki Soffana Putri