
TUBAN – Pasar Sore yang dulu terkenal ramai diminati pembeli kini hanya menyisakan bangunan tua yang nyaris tak berpenghuni. Tas, sepatu, dan perlengkapan sekolah yang mulai diselimuti debu masih tertata rapi di sebuah lapak kecil milik Ibu Budi (58). Pedagang yang telah berjualan selama 15 tahun itu menjadi salah satu dari sedikit orang yang memilih bertahan di tengah sepinya pasar. Setiap hari, mulai pukul 14.00 hingga 21.00 WIB, Ibu Budi membuka lapak dengan dibantu suaminya yang renta di lorong belakang pasar yang jarang terjamah wisatawan. Di antara deretan toko yang telah lama kosong, ia tetap menunggu pembeli datang agar bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Masa kejayaan Pasar Sore kini tinggal kenangan. Bertahun-tahun sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan parah. Atap yang ambrol membuat satu per satu pedagang memilih pindah ke tempat lain. Kondisi bangunan yang kosong dan tak terawat membuat banyak orang enggan masuk hingga ke bagian belakang pasar tempat ibu Budi berjualan, sehingga lapaknya seolah tak terlihat di tengah keramaian yang berlalu-lalang.
Bahkan untuk bertahan hidup, Ibu Budi mengaku terpaksa menjual sejumlah perabotan rumah tangga miliknya.
“Saya nggak punya apa-apa. Mau pindah juga sudah nggak punya lahan lagi, Mbak. Saya sudah tua. Jualan online juga nggak bisa, ibu nggak pegang HP,” ujar Ibu Budi pasrah.
Hingga kini, para pedagang yang masih bertahan belum mendapatkan kepastian mengenai rencana perbaikan bangunan pasar.
“Sampai sekarang saya nggak tau pasar ini direnovasi atau tidak, Mbak. Dari dulu sering ada yang datang survei, tapi ya nggak tahu mau diperbaikinya kapan,” kata Ibu Budi.
Harapan Ibu Budi sangat sederhana yakni bisa terus berjualan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan melihat Pasar Sore kembali hidup seperti dulu. Berdoa, suatu hari nanti, harapan yang selama ini dijaga Ibu Budi tidak lagi menunggu sendirian. Semoga ada tangan yang membantu, ada perhatian yang datang, dan ada masa depan yang lebih baik bagi mereka yang masih setia di balik sunyinya Pasar Sore Tuban.
Penulis: Adelya Larasati