
TUBAN – Aspal panas di depan proyek pembangunan Sekolah Rakyat Kabupaten Tuban berubah menjadi panggung duka pada Kamis (14/5/2026). Puluhan pengemudi ojek online (ojol) yang biasanya sibuk membelah jalan demi pesanan, kali ini menepi untuk satu tujuan, menuntut keadilan bagi rekan sejawat yang meregang nyawa di titik tersebut.
Para pejuang aspal ini hadir dengan mengenakan jaket kebanggaan komunitas masing-masing, suasana mencapai puncak haru saat mereka menggelar doa bersama dan tabur bunga di lokasi kecelakaan. Di bawah bayang-bayang alat berat yang sesekali menderu, suasana mendadak hening. Mereka menundukkan kepala, mengirim doa bagi almarhum yang tewas akibat kecelakaan yang diduga kuat dipicu oleh buruknya manajemen keselamatan di area proyek.
”Kami kehilangan saudara, sesama pencari nafkah. Ini bukan sekadar musibah, ini peringatan keras bahwa nyawa pengendara tidak boleh dikalahkan oleh kejar tayang pembangunan,” tegas Ahmad Rizki, koordinator aksi, dengan suara bergetar.
Kritik tajam diarahkan pada kondisi jalan yang dinilai kian memprihatinkan dalam beberapa pekan terakhir. Gundukan aspal yang tidak rata serta material bangunan yang meluber ke badan jalan menjadi “jebakan” mematikan bagi pengendara roda dua.
Kekhawatiran para pengemudi ojol ini bukan tanpa alasan. Dilansir dari laporan media lokal Memanggil.co, Fajar, seorang pengemudi ojol asal Semanding, membeberkan realitas pahit di lapangan.
”Truk proyek keluar masuk tanpa aba-aba yang jelas. Kalau malam, di sini gelap sekali. Salah antisipasi sedikit saja, taruhannya nyawa,” ungkap Fajar sebagaimana dikutip dari portal berita tersebut.
Senada dengan para pengemudi, warga sekitar mulai berani bersuara. Sutini, warga setempat, mengaku selalu waswas setiap kali anggota keluarganya melintasi jalur tersebut. Ia menekankan bahwa pembangunan fasilitas pendidikan memang penting, namun jangan sampai mengabaikan nyawa publik. Meski aksi berlangsung kondusif di bawah kawalan ketat personel Kepolisian dan Satpol PP, satu hal besar masih menggantung, sikap pelaksana proyek.
Hingga aksi ditutup dengan penyalaan lilin yang temaram pada malam hari, pihak kontraktor maupun pelaksana pembangunan Sekolah Rakyat belum memberikan pernyataan resmi. Meski sempat terjadi dialog antara perwakilan ojol dan petugas lapangan, belum ada komitmen tertulis terkait perbaikan sistem pengamanan atau penambahan rambu-rambu di area tersebut.
Kini, bola panas berada di tangan pemerintah daerah dan pihak kontraktor. Di tengah ambisi membangun infrastruktur pendidikan yang megah, publik Tuban menagih janji keselamatan. Jangan sampai Sekolah Rakyat berdiri di atas duka rakyat yang menjadi korban di jalannya sendiri.
Penulis: Nistel Rooy