
SOLUTIF – Kabupaten Tuban tak hanya dikenal sebagai Bumi Wali atau pelabuhan kuno Kambang Putih yang tersohor sejak era Jenggala.
Di balik rimbunnya pepohonan Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, tersimpan sebuah narasi legendaris yang mengaburkan batas antara dunia nyata dan khayalan: Kisah Jaka Tarub.
Bagi masyarakat Jawa, nama Jaka Tarub adalah simbol pertemuan antara manusia fana dengan entitas langit.
Namun, di Sumberagung kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, ia adalah bagian dari identitas tanah dan air.
Jauh di dalam kawasan yang dulunya merupakan hutan belantara, terdapat sebuah sendang (kolam alami) yang dikeramatkan.
Konon, di titik terpencil inilah Jaka Tarub menyaksikan tujuh bidadari turun dari kahyangan untuk mandi.
Atmosfer mistis yang menyelimuti sendang tersebut membuat warga percaya bahwa lokasi ini adalah gerbang penghubung antara dunia manusia dan alam spiritual.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan rasa syukur atas hasil bumi, warga Sumberagung rutin menggelar tradisi Manganan atau Sedekah Bumi.
Ada perubahan menarik dalam pola budaya di sini. Jika dulu alunan musik Tayub menjadi sajian utama yang wajib ada, kini gema pengajian dan doa bersama lebih mendominasi.
Perubahan ini mencerminkan karakter Tuban yang adaptif menjaga tradisi lama namun memberikan napas religius yang lebih kental sesuai perkembangan zaman.
Saksi bisu sejarah ini sedang berjuang melawan waktu. Saat ini, lokasi yang dipercaya sebagai tempat pemandian bidadari tersebut tampak sepi pengunjung.
Kurangnya perawatan membuat situs bersejarah ini perlahan mulai kehilangan kemilaunya.
Lebih dari sekadar tempat mistis, kisah Jaka Tarub di Plumpang membawa pesan moral yang mendalam tentang kejujuran, tanggung jawab, dan konsekuensi dari sebuah pilihan hidup.
Menelusuri jejak Jaka Tarub di Sumberagung adalah perjalanan melintasi waktu.
Jaka Tarub mengingatkan kita bahwa Tuban adalah kota dengan ribuan lapisan cerita mulai dari kejayaan maritim hingga romansa antara bumi dan langit yang masih terkubur sunyi di balik hutan Plumpang.
Penulis: Wanda Adevani