
TUBAN – Keberadaan Ekowisata Pelang di Dusun Pelang, Desa Tahulu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur kini tidak hanya sekadar menjadi tempat rekreasi, melainkan telah menjelma sebagai salah satu pusat edukasi pelestarian lingkungan yang mandiri. Keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi pengelolaan berbasis masyarakat yang sudah berjalan selama sewindu, terhitung sejak pertama kali dirintis pada tahun 2018 hingga saat ini di tahun 2026.
Objek wisata ini dikelola langsung oleh kelompok masyarakat setempat yang dikenal dengan sebutan “Pokdarwis” (Kelompok Sadar Wisata). Di balik layar kesuksesan destinasi alam bernuansa sejuk ini, terdapat sosok Bapak Hasan yang kini berusia 47 tahun selaku pihak pengelola utama. Tidak sendirian, Bapak Hasan mengelola dan melestarikan wisata bersama tetangga sekitar rumahnya.
Sebanyak 31 orang warga Dusun Pelang terlibat langsung dan tergabung ke dalam Pokdarwis desa tersebut. Jumlah anggota aktif yang masif ini menjadikan Pokdarwis Ekowisata Pelang disebut-sebut sebagai salah satu kelompok sadar wisata dengan jumlah pengelola paling banyak sekaligus paling aktif di wilayah Kabupaten Tuban. Kekompakan tim kelompok masyarakat ini dibuktikan dengan adanya agenda wajib berupa rapat besar yang digelar secara rutin setiap sebulan sekali untuk mengevaluasi pelayanan, menjaga kebersihan area, hingga merencanakan inovasi wahana baru.
Berbicara mengenai fasilitas unggulan, Ekowisata Pelang menawarkan sesuatu yang sangat berbeda dari kolam renang buatan pada umumnya. Tempat ini mengandalkan sumber mata air alami yang sangat jernih dan langsung dipenuhi oleh ribuan ikan hias. Namun, daya tarik paling eksklusif yang membedakan tempat ini dengan destinasi lain di Kabupaten Tuban adalah keberadaan ekosistem pohon sagu yang tumbuh subur di sepanjang area wisata.
Bapak Hasan mengungkapkan bahwa ide awal pengembangan wisata oleh kelompok masyarakat ini justru lahir dari potensi kelangkaan pohon sagu di wilayah Tuban, sehingga menjadikannya sebagai sebuah peluang emas yang bernilai tinggi.
“Pada dasarnya, fasilitas unggulan untuk menarik wisatawan itu adalah sumber mata air yang diisi oleh ikan-ikan. Kita tidak hanya menyediakan kolam, tapi juga pohon sagu. Karena kan jarang ada di Tuban ini wisata yang menyediakan pohon sagu, dan konsep wisata ini diambil karena masih banyak wisata yang belum ada pohon sagunya, jadi itu menjadi daya tarik tersendiri di wisata Pelang ini,” ucap Bapak Hasan menjelaskan keunikan destinasinya.
Seperti objek wisata alam pada umumnya, Ekowisata Pelang mencatatkan angka kunjungan paling tinggi pada momen akhir pekan (weekend) dan libur nasional. Meski begitu, manajemen kelompok yang diterapkan oleh Pokdarwis setempat memastikan bahwa aktivitas wisata dan pelayanan di lokasi ini tetap berjalan stabil dari hari Senin hingga Minggu tanpa jeda. Pengelola sengaja mengatur strategi matang agar objek wisata ini tidak pernah sepi dan selalu memiliki daya tarik yang konsisten setiap harinya.
Bapak Hasan kembali menambahkan bahwa pada momen-momen puncak liburan, pihak Pokdarwis selalu menaikkan kesiapan layanan demi menyambut para wisatawan melalui paket edukasi langsung mengenai budidaya dan pemanfaatan komoditas sagu lokal.
“Biasanya paling ramai itu pada saat hari libur weekend, dan makanya kita sebagai pengelola juga sudah membuatkan jadwal pada hari Senin sampai Minggu karena supaya selalu ada wisatawan. Kalau waktu libur kita juga mempersiapkan lebih, seperti menyediakan edukasi atau membuat sagu bersama-sama. Untuk edukasinya sendiri kita menargetkan lembaga pendidikan dan untuk kelompok organisasi yang ingin mengetahui pembuatan sagu dan lain-lain,” pungkasnya.
Melalui program edukasi pembuatan sagu bersama dan pesona mata air alaminya, Ekowisata Pelang berhasil memperluas target pasarnya, mulai dari rombongan sekolah, instansi, hingga kelompok organisasi umum. Upaya kolaboratif dari 31 warga yang tergabung dalam Pokdarwis ini membuktikan bahwa sinergi kelompok masyarakat lokal mampu mengubah potensi alam yang langka menjadi sektor ekonomi kreatif yang berkelanjutan sekaligus mengedukasi generasi muda.
Penulis: Putri Ameyla Sari