
Tuban- Maraknya alat kecerdasan buatan (AI) seperti chatbot, aplikasi pembantu tugas dan platfrom pembelajaran kini menjadi tren baru di kalangan pelajar, Mereka lebih memilih jawaban instan daripada berproses memecahkan masalah sendiri. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan guru dan orang tua mengenai dampak jangka panjang terhadap kemandirian akademik, kemampuan berpikir kritis, dan motivasi belajar siswa.
Banyak siswa kini terbiasa meminta jawaban instan dari chatbot atau aplikasi, lalu menyerahkan hasil itu sebagai pekerjaan mereka. Padahal, inti pendidikan bukan sekadar jawaban benar, melainkan perjalanan untuk melatih pola pikir, menambah pengetahuan, serta proses membentuk kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian.
Ada beberapa Pengakuan yang menggambarkan perubahan perilaku belajar pada siswa. Ia menuturkan bahwa awalnya AI dipakai untuk membantu memahami materi yang sulit, namun seiring berjalananya waktu mereka mencari semua jawaban secara instan ketika ada PR.
Awalnya saya hanya mencari jawaban untuk soal‑soal yang sulit, namun seiring waktu saya semakin malas belajar dan akhirnya selalu mencari semua jawaban saat ada PR,” ungkap Adi siswa kelas 4 SD.
Setelahnya muncul kekhawatiran yang disampaikan oleh orang tua, mereka mengungkapkan bahwa dengan adanya AI anaknya malas belajar dan anaknya kerap langsung menyalin jawaban tanpa mencoba memahami prosesnya.
“Dengan adanya aplikasi AI, saya khawatir anak saya akan jadi malas belajar dan lebih bergantung pada AI,” Ungkap Ibu Adi
Kini orang tua kerap mendampingi proses belajar anak saat di rumah dan memasang aturan penggunaan gadget, termasuk membatasi akses aplikasi AI saat mengerjakan PR. Akan tetapi orangtua juga perlu membimbing anak bagaimana menggunakan AI sebagai alat belajar yang benar misalnya untuk mengecek jawaban atau meminta penjelasan tambahan bukan sebagai sumber jawaban final.
Upaya yang dilakukan sekolah kini memilih untuk tidak sering memberikan PR, dan memilih untuk siswa belajar langsung di sekolah bersama guru dan teman, sehingga tidak bergantung pada AI. Jika ada tugas rumah, siswa diminta menjelaskan kembali jawaban atau pekerjaannya agar mereka berpikir kritis dan benar-benar memahami materi. Para pendidik berharap upaya yang dilakukan sekolah, keterlibatan orangtua, dan pengembangan pembatasan penggunaan AI bisa mengembalikan fokus pendidikan pada proses berpikir, bukan sekadar jawaban.
Penulis: Della Amelia Rosydah