
TUBAN — Alih fungsi Rest Area Tuban menjadi Taman Abhirama pada tahun 2022 menyisakan cerita pilu bagi para pedagang terdampak. Salah satunya adalah Ibu Noviani (43), pedagang makanan rumahan yang sejak 2013 menggantungkan hidupnya di kawasan persinggahan tersebut.
Kini, Bu Noviani menjadi satu-satunya pedagang lama yang masih bertahan. Ia terpaksa memindahkan warung nasinya ke seberang jalan sebelah barat Abhirama, meski harus menghadapi penurunan jumlah pembeli yang cukup drastis.
Saat masih beroperasi sebagai rest area, warung Bu Noviani selalu ramai oleh sopir bus dan penumpang yang singgah untuk beristirahat. Namun, roda berputar setelah kawasan tersebut diubah menjadi ruang publik.
“Dulu sopir-sopir bus dan penumpang selalu ramai, jadi warung ikut banyak pembeli. Tapi sekarang setelah pindah ke sini, paling yang beli cuma sopir truk yang kebetulan berhenti, atau pelanggan lama saja,” ujarnya, Kamis (18/6).
Bu Noviani menceritakan, menjelang alih fungsi pada 2022 lalu, ia sempat mendapatkan pemberitahuan dari petugas untuk mengosongkan lahan. Pihak pengelola sebenarnya sempat menawarkan lapak baru di dalam area Taman Abhirama, namun harganya dinilai tidak masuk akal bagi pedagang kecil.
“Saya sempat ditawari buka lapak di area Abhirama, tapi biaya sewanya hampir Rp50 juta per tahun,” keluhnya.
Selain biaya sewa yang selangit, Bu Noviani mengaku para pedagang sama sekali tidak menerima kompensasi uang maupun tempat relokasi pengganti dari dinas terkait. Akibatnya, para pedagang harus memutar otak dan mencari lokasi usaha baru secara mandiri.
Kondisi ini membuat mayoritas pedagang lain memilih gulung tikar karena tidak mampu membeli atau menyewa lahan baru yang strategis.
Di sisi lain, Bu Noviani mengakui bahwa wajah baru kawasan tersebut kini jauh lebih tertata, bersih, dan ramai dimanfaatkan masyarakat Tuban untuk bersantai maupun menggelar berbagai kegiatan.
Namun, di balik gemerlapnya Taman Abhirama sebagai ruang publik baru, ada kisah perjuangan pedagang kecil yang tersisih. Kini, Bu Noviani hanya bisa setia membuka warungnya setiap hari, merajut asa agar roda rezekinya bisa kembali berputar seperti masa-masa ketika Rest Area Tuban masih berjaya.
Penulis : Moch. Johan A.M.S