SOLUTIF

MENUNGGU PEMBELI DI ANAK TANGGA KOTA MENJAGA ASA DIUSIA SENJA

Pak Mujianto penjual wingko saat menunggu pembeli

Tuban, (11 Juni 2026) – Di tengah keramaian aktivitas masyarakat di alun-alun, seorang pria tua terlihat setia menunggu pembeli sekaligus menawarkan dagangannya yang berupa wingko. Pria ini bernama Mujianto, penduduk Widang, Tuban, yang telah menghabiskan lebih dari 30 tahun untuk berjualan wingko guna mencukupi kebutuhan keluarganya.

Mujianto menjual wingko dengan harga Rp10.000 untuk setiap bungkusnya. Setiap harinya, ia biasanya menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun dan terkadang berpindah ke area pemberhentian bus yang menuju Babat–Tuban. Meskipun usianya tidak lagi muda, semangatnya untuk bekerja tetap berkobar demi menghidupi istrinya.

Menurut Mujianto, kedua anaknya saat ini sudah menikah dan hidup mandiri. Namun, hal itu tidak menghentikannya untuk terus berusaha. Ia memilih untuk tetap berjualan sebagai sumber pendapatan keluarga. “Untuk menafkahi istri,” ujarnya singkat saat ditanya alasan ia masih berjualan hingga sekarang.

Pendapatan yang diperoleh Mujianto bervariasi. Di hari-hari ramai atau selama musim liburan, ia bisa mendapatkan lebih dari Rp200.000 dalam sehari. Namun, pada hari-hari biasa, tidak jarang ia pulang dengan hasil yang minim.

Keberadaan Mujianto mencerminkan perjuangan nyata para pedagang kecil yang terus bertahan di usia lanjut. Dengan sabar menunggu pembeli di anak tangga kota, ia tetap memelihara harapan agar kebutuhan hidup keluarganya dapat terpenuhi.

Selain menjual wingko, Mujianto juga harus menghadapi banyak rintangan dalam usaha dagangnya. Cuaca yang sering berubah-ubah berpengaruh pada jumlah pengunjung di tempat ia berjualan. Ketika turun hujan atau alun-alun sepi, biasanya penjualannya mengalami penurunan. Meski begitu, ia tetap datang dan menawarkan produknya dengan harapan ada pembeli yang berminat.

Wingko yang dipasarkan oleh Mujianto adalah makanan tradisional yang masih diminati oleh berbagai kalangan. Banyak konsumen yang membeli wingko sebagai cemilan atau oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Hal ini menjadi alasan mengapa ia terus menjalankan usahanya hingga saat ini.

Selama bertahun-tahun menjalani usaha, Mujianto telah menyaksikan banyak perubahan di sekitar lokasi dagangnya. Ia melihat perkembangan fasilitas publik, fluktuasi jumlah pengunjung, serta semakin banyaknya variasi makanan yang ditawarkan oleh pedagang lain. Walaupun persaingannya semakin meningkat, ia terus berupaya mempertahankan pelanggan dengan menjual wingko yang terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat.

Bagi Mujianto, pekerjaan ini bukan hanya tentang mencari uang, tetapi juga merupakan aktivitas yang telah dia jalani selama sebagian besar hidupnya. Dengan pengalaman yang dimiliki, ia terus melanjutkan rutinitas berjualan dari pagi sampai sore. Semangat dan ketekunan yang dimilikinya menggambarkan bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk terus bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Penulis : M. SHofwan Khusni Mubarok

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top